RESUME PSIKOLOGI KEBERBAKATAN
SEJARAH PEMBINAAN ANAK BERBAKAT
Di Indonesia sendiri keberbakatan diartikan sebagai : Anak Genius, Anak Supernormal, Anak Cemerlang, Anak Berkemampuan Unggul, Anak Berbakat, Anak berkemampuan istimewa, dan Anak berbakat istimewa. Keberbakatan merupakan suatu hal yang selalu berkaitan dengan intelegensi. Keturunan dan lingkungan berinteraksi secara fungsional menghasilkan tingkat intelektual suatu individu, oleh sebab itu pendidikan merupakan komponen yang mutlak perlu untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan manusia, melalui pendidikan, terutama pendidikan sekolah (formal), masyarakat akan berkembang ke arah kondisi yang bermanfaat dan melalui pendidikan juga terjadi seleksi dari manusia yang mampu belajar, terampil, berbakat dan menjadi bermartabat. Dapat dikatakan bahwa sedikitnya ada tiga istilah yang berhubungan dengan masalah keberbakatan yang sering disebut dalam literatur, namun jarang digunakan pada saat ini yaitu genius, prodigy dan precocious.
Plato menggambarkan bahwa pada masa itu ada sekelompok orang yang disebut berbakat, dan mereka ini adalah merupakan Men of gold. Adapun mereka yang termasuk dalam kelompok "manusia emas" ini adalah orang yang mempunyai taraf intelektual superior. Orang yang disebut sebagai manusia emas dibedakan dengan orang biasa atau mereka yang mempunyai kualitas intelektual perak, besi ataupun tembaga.
Menurut Balitbang Depdiknas (1986) mengungkapkan ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari berbagai aspek, yaitu :
• Kecerdasan
Dengan bentuk perilaku : Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berpikir logis dan kritis.
• Kreativitas
Dengan bentuk perilaku : Mempunyai daya imajinasi yang tinggi dan Mempunyai minat yang luas.
• Komitmen terhadap tugas
Dengan bentuk perilaku : Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa), mampu berkonsentrasi, dan tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.
Keberbakatan adalah sebagaimana mengemukakan konsep tentang kecantikan, yang selalu berubah setiap waktu. Namun dari berbagai pendapat terdapat suatu konsep yang mampu menejelaskan secara detail dan mudah dipahami yakni Konsep Keberbakatan Menurut Model Renzulli.
PENELUSURAN ANAK BERBAKAT SERTA PERAN GURU DAN ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN BAKAT ANAK
Penilaian berdasar model keberbakatan (The Schoolwide Enrichment). Model keberbakatan yang menekankan pada :
• Skor Tes
• Nominasi Guru
• Nominasi pihak lain: sebaya, orang tua, diri, dan tes kreativitas.
• Review khusus dari pihak terkait (guru bidang studi, guru wali)
• Nominasi action information oleh guru yg memperoleh penataran khusus ttg Anak Berbakat.
Penilaian berdasar model keberbakatan (The Revolving Door Identification). Model keberbakatan yang menekankan pada :
1. Konstrak psikologis yang mengacu pada teori keberbakatan.
2. Kategori penilaian untuk analisis kemampuan; perkembangan, kinerja, sosial, dan lain-lain.
3. Instrumen dan prosedur, meliputi:
Skor tes
Catatan anekdot
Laporan pengamatan
Penilaian guru
Penilaian teman sebaya
Penilaian diri
Penilaian orang tua
Kinerja dalam kelas
Gifted atau cerdas istimewa, merupakan istilah yang diberikan untuk menjelaskan kondisi seseorang yang memiliki kemampuan atau potensi melakukan sesuatu jauh di atas rata-rata dari orang seusianya. Dengan batasan IQ di atas 130, dengan kreativitas, motivasi dan ketahanan kerja yang tinggi.
Adapun talented atau berbakat istimewa, tidak mengacu pada batasan inteligensi di atas 130. Namun, talented mempunyai salah satu atau beberapa bidang prestasi yang menonjol, yang melebihi rata-rata, yang tidak selalu dalam bidang akademis.
Guru berperan untuk mengidentifikasi sumber stres dan berbincang-berbincang mengenai kesulitan yang dihadapi oleh siswa gifted. Pada permasalahan hubungan dengan sebaya, guru BK (Bimbingan Konseling) membuat terobosan yang baik berupa menampung keluh kesah para siswa di kelas CI (Cerdas Istimewa) melalui akun media sosial. Selain adanya media sosial, BK memberikan materi-materi yang bertujuan untuk mengkaji permasalahan-permasalahan yang mungkin dihadapi oleh siswa yakni memberikan bimbingan sosial, bimbingan karir, serta bimbingan bagi siswa yang memiliki kesulitan belajar.
Adapun peran orang tua terhadap bakat anak adalah Orang tua berperan sebagai pendidik, Orang tua sebagai guru dalam kehidupan anak, Orang tua sebagai motivator, Orang tua sebagai fasilitator, Orang tua sebagai model.
PENDIDIKAN DAN KURIKULUM YANG BERDIFERENSIASI
Pendidikan berdiferensiasi adalah suatu pendidikan yang dirancang sesuai minat dan kemampuan intelektual siswa (Ward, 1980). Dalam pendidikan berdiferensiasi ini memungkinkan siswa mewujudkan dan mengembangkan bakatnya dan mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimilki. Dalam hal ini, Guru memegang peran penting dalam pendidikan anak berbakat. Cara penyelenggaraan dalam pendidikan berdiferensial ini dapat dilakukan dengan beberapa cara dibawah ini :
Akselerasi
Pemerkayaan horizontal
Pemerkayaan vertikal
Mengembangkan ketrampilan penelitian & pemecahan masalah secara kreatif agar menjadi produsen pengetahuan dan bukan konsumen pengetahuan semata-mata.
Kurikulum berdiferensiasi sangat penting ditekankan untuk anak berbakat. Kurikulum ini memiliki tiga level kurikulum yaitu: Prescribed Curriculum and Instruction, Teacher-Differentiated Curriculum dan Learner-Differentiated Curriculum. Dalam mendiferensiasikan pengajaran, guru bisa melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan belajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan dan evaluasi. Anak berbakat kreatif memerlukan program bimbingan yang berdiferensiasi yang berkenaan dengan karakteristik,kebutuhan dan masalah-masalah mereka. Diperlukannya dukungan dan bimbingan untuk membangun kepercayaan dari dalam, melakukan kegiatan kreatif,empati, dan menghargai rasa humor anak berbakat kreatif. Anak berbakat kreatif memerlukan program bimbingan yang berdiferensiasi yang berkenaan dengan karakteristik,kebutuhan dan masalah-masalah mereka. Diperlukannya dukungan dan bimbingan untuk membangun kepercayaan dari dalam, melakukan kegiatan kreatif,empati, dan menghargai rasa humor anak berbakat kreatif.
MASALAH-MASALAH YANG DIHADAPI ANAK BERBAKAT DAN CARA MENGATASINYA
Para peneliti (Raph, Goldberg, and Passow, 1966) dan beberapa penulis mutakhir (Davis and Rimm, 1989) telah mendefinisikan berprestasi kurang (underachievement) berkenaan dengan suatu kesenjangan antara suatu performansi sekolah dan beberapa kemampuan yang sering diindikasikan dengan suatu indeks IQ. Karakteristik dan pola-pola perilaku AB2K memang sering mewarnai perilakunya. Perilaku-perilaku tersebut seringkali menjadi indikator penting bagi orang lain untuk memberikan label, tanpa memperdulikan potensi apa yang ada di baliknya. Dengan demikian sangatlah wajar bahwa banyak terjadi AB2K yang tidak hanya merugikan anak-anaknya sendiri, melainkan juga merugikan keluarga dan masyarakat.
Karakteristik utama yang dihubungkan dengan anak underachiever adalah rendahnya self-esterm (Preckle & Vock, 2006; Trevallion, 2008). Pernyataan tersebut juga dipertegas oleh Butler-Por, McCall, Evahn & Kratzer (Tarmidi, 2008) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik kepribadian anak underachiever adalah rendahnya konsep diri. Anak biasanya menutupi ini dengan mengembangkan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) seperti bertindak agresif ataupun membuat keributan atau lelucon di kelas.
Solusi Untuk Mengatasi Hambatan Yang Dialami Anak Berbakat Yang Berprestasi Kurang Dan Anak Berbakat Yang Memiliki Motivasi Rendah:
• Intervesi Konseling berkonsentrasi untuk mengubah dinamika personal dan keluarga yang membantu AB2K.
• Interversi Edukatif bagi AB2K yang sangat terkenal dapat diwujudkan dengan sistem kelas khusus yang part time dan full time bagi AB2K (e.g., Butler-Por, 1987; Fehrenbach, 1993; Supplee, 1990; Whitmore, 1980)
• Strategi dalam Mengatasi AB2K : Strategi Sekolah dan Strategi keluarga
ANAK BERBAKAT
Kebutuhan pendidikan anak ditinjau dari minat anak pengembangan itu sendiri, yaitu yang berhubungan dengan potensinya yang hebat.
Untuk mewujudkan potensi hebat itu, anak-anak mempunyai peluang untuk mencapai aktualisasi potensi yang dimilikinya dengan menggunakan fungsi otak, peluang untuk membangun kreativitas dan motivasi internal untuk belajar berprestasi. Dari segi kepentingan masyarakat, anak yang membutuhkan kepedulian, pengakomodasian, perwujudan lingkungan yang kaya dengan pengalaman, dan layanan anak-anak untuk berlatih secara nyata.
Pada lingkungan sekolah, dimana anak-anak ini diberi label “lulus” atau “mengulang”atau “berkebutuhan khusus”, “berbakat khusus”, evaluator jarang sekali dengan sengaja mencari anak-anak yang memiliki kombinasi dari label-label tersebut. Mereka memang tidak pernah memperkirakan anak yang berbakat mungkin saja mengalami disleksia atau sebaliknya, anak yang memiliki cacat fisik ternyata memiliki cacat fisik ternyata memiliki bakat khusus yang jauh melampaui anak-anak lainnya.
Anak-anak ini biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Bakat dan kemampuan yang sangat menonjol
2. Kesenjangan yang besar antara prestasi yang diharapkan dengan prestasi yang sesungguhnya diperoleh anak.
3. Kesulitan untuk bergaul dengan teman-temannya.
4. Self-esteem yang rendah.
5. Prestasi akademis
6. Terlihat malas dan ketidakmampuan untuk fokus dan berkonsentrasi
Ada tiga kelompok besar yang dapat dibedakan anak yang twice exceptionality, yaitu:
1. Yang telah diidentifikasikan berbakat, tetapi juga telah ditandai memiliki kesulitan belajar (learning disable)
2. Kelompok kedua tidak teridentifikasikan
3. Kelompok ketiga adalah mereka yang telah diidentifkasikan berbakat, namun juga memiliki kesulitan belajar.
MENCIPTAKAN TANTANGAN DAN KEGIATAN UNTUK ANAK BERBAKAT SERTA MODE PELAYANAN SISWA BERBAKAT DI KELAS
Lingkungan keluarga yang dibutuhkan adalah lingkungan keluarga yang kondusif, dimana lingkungan ini mampu memberikan pengalaman, merangsang rasa ingin tahu, sekaligus menyediakan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam menemukaan jawaban. Dalam hal ini, orang tua perlu mengidentifikasi potensi yang dimiliki anaknya. Penting juga sebagai tenaga pendidik serta orangtua untuk memberikan tantangan dalam masa belajar anak, tantangan yang diberikan juga disesuaikan dengan keberbakatan yang dimiliki oleh anak. Harapannya dengan tantangan yang diberikan menjadikan anak mampu mengembangkan bakat yang dimilikinya. Anak juga mampu untuk mengekspresikan secara penuh tentang bakat-bakat yang dimilikinya. Kemudian pada pelayanan anak berbakat penting untuk memberikan pelayanan yang sesuai kepada anak. Maka dari itu keistimewaan itu tidak akan dapat berkembang secara optimal jika tidak didukung dengan faktor-fakor lain yang memungkinkan tumbuh-berkembangnya potensi istimewa tersebut. Dengan begitu, sebagai syarat bagi keberkembangan potensi keberbakatan individu, maka layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan individual anak gifted harus diciptakan terlebih dahulu.
Selain itu, yang juga patut disadari oleh para orangtua dan pendidik adalah keistimewaan yang ada pada diri anak akan memiliki keterbatasan, sehingga jangan pernah berpikir bahwa anak-anak dengan kemampuan istimewa dapat mengatasi masalah yang dihadapinya dengan kemampuan yang dimilikinya sendiri, bahkan tidak jarang justru karena kemampuan istimewanya menjadikan anak-anak mengalami situasi dilematis yang sulit dipecahkannya sendiri.
TEORI MULTIPLE INTELEGENCE GARDNER
Gardner, nama lengkapnya Howard Gardner, adalah seorang psikolog perkembangan dan ahli pendidikan. Dia lahir pada tanggal 11 Juli 1943 dan dibesarkan di Scranton, sebuah kota ukuran menengah/sedang bekas pertambangan batubara di Timur Laut Pennsylvania, Amerika Serikat (Ladislaus Naisaban 2004: 158-162 ). Kedua orang tuanya, Ralph dan Hilde Gardner, termasuk pengungsi yang melarikan diri dari kekejaman Nazi Jerman dan kemudian menetap di Amerika Serikat pada tanggal 9 November 1938. Orang tuanya kehilangan anak pertama mereka yang saat itu berumur delapan tahun akibat kecelakaan kereta luncur. Anak tersebut adalah Eric, kakak Gardner yang saat itu meninggal menjelang kelahiran Gardner. Kejadian tersebut nampaknya telah menimbulkan semacam trauma bagi orang tua Gardner. Hal ini nampak dari sikap yang ditunjukkan orang tuanya terhadap Gardner kecil. Gardner selalu dilarang melakukan aktivitas yang dapat membahayakan fisiknya, seperti bersepeda dan olahraga berat lainnya, sehingga kegemarannya pada musik, menulis, dan membacalah yang kemudian dikembangkan. Bahkan musik menjadi hal yang penting dalam hidupnya.
Menurut Gadner, kecerdasan manusia juga harus dinilai berdasarkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup, kemampuan menemukan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan atau dicari solusinya, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan memberikan penghargaan dalam budaya seseorang. Gardner mengembangkan cara-cara mengukur kemampuan individu untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu. Gardner melakukan penelitian terhadap otak manusia dan mewawancara para korban stroke, prodigies, dan individu dengan autisme. Berdasarkan penelitian itu, delapan kriteria yang digunakan oleh Gardner untuk mengidentifikasi kecerdasan.
Hal ini dimaksudkan agar kedelapan jenis kecerdasan tersebut berkembang sepenuhnya, bukan sekedar bawaan, kemampuan atau bakat. Kriteria yang digunakan Gardner adalah sebagai berikut:
1. Letak dalam Otak
2. Adanya Bukti Personalitas
3. Tiap Kecerdasan Memiliki Waktu Kemunculan dan Perkembangan
4. Sejarah Evolusioner
5. Dukungan Temuan Psikometrik
6. Dukungan Penelitian Psikologi Eksperimental
7. Tiap Kecerdasan Memiliki Rangkaian Cara Kerja Dasar
Setiap manusia memiliki berbagai kecerdasan.
Multiple Intelligences adalah teori kecerdasan yang membedakan kecerdasan menjadi lebih spesifik, dibandingkan dengan sebelumnya. Howard Gardner mengembangkan teori kecerdasan majemuk dan bervariasi. Gardner , kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan dan kemampuan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai budaya contohnya kecerdasan linguistic, kecerdasan matematis logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis. Kecerdasan interpersonal itu sendiri adalah kemampuan untuk memahami maksud dan perasaan orang lain sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan orang lain, melalui karakteristik kecerdasan yang ada.
Disitulah kita belajar bagaimana menyadari dan memanfaatkan kecerdasan yang dimiliki dengan baik.
PENERAPAN METODE YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK PENELUSURAN ANAK BERBAKAT
Menurut Swassing (1985), identifikasi mempunyai dua konsep yaitu konsep penyaringan dan identifikasi aktual. Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu :
1. Penjaringan
2. Pengalihtanganan
3. Klasifikasi
4. Perencanaan pembelajaran
5. Pemantauan kemajuan belajar
PROGRAM PENDIDKAN SISWA BERBAKAT DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA
Program pendidikan untuk siswa berbakat di Amerika, Eropa dan benua Asia memiliki masalah dan kebutuhan khusus. Mereka membutuhkan perhatian dan bimbingan yang tepat untuk mengembangkan bakat dan kemampuan mereka dengan sebaik-baiknya agar dapat memberikan kontribusi yang luar biasa kepada masyarakat.
Mantullllll kakk
BalasHapus