RESUME PSIKOPATOLOGI DAN REHABILITASI ISLAM

PEMAHAMAN MENGENAI MANUSIA DAN KEHIDUPAN PSIKIS

Bagi banyak orang, pekerjaan instrospeksi atau mawas diri itu merupakan usaha yang sulit sekali. Sedangkan bagi para ahli ilmu jiwa, bereksplorasi dan mengintip di wilayah "kehidupan batiniah”itu sendiri merupakan aktivitas yang mengasyikkan. Pada setiap perenungan mengenai fungsi-fungsi psikis itu selalu terdapat subjek yang aktif, yaitu seorang “Aku”yang mengalami, dan ada suatu objek yang menjadi objek. Maka relasi antara Aku atau subjek yang mengalami, dengan objek itu disebut mengandung intensionalitas yaitu pengarahan atau penujuan dari subjek kepada satu objek.

Pada pengalaman mendapat suatu firasat, ada kesadaran yang samar-samar sifatnya. Sedangkan pada peristiwa kedua, pengenalan berlangsung samar-samar dan bisa dikatakan “jauh”dari realitas yang nyata. Motivasi ini adalah alasan atau gambaran dasar yang menggerakkan diri kita untuk landasan sesuatu. Mungkin hal itu disebabkan oleh kondisi jiwanya yang tidak “pas”. Karena semenjak kematian suaminya dia mendapatkan warisan rumah besar dan mewah dengan kekayaan yang berlimpah. Sekarang janda muda itu menampilkan kesan yang ganjil. Sebab, emosi-emosi kedukaan oleh kematian suaminya dan emosi-emosi keriangan yang ditimbulkan oleh harta kekayaan yang baru diterimanya, menjadikan jiwanya kacau. ”Saya tahu, bahwa menyuntikkan morfin pada diri sendiri dapat membahayakan hidup saya”, demikian kata seorang morfinis, ”namun setiap harinya saya harus menyuntiki diri sendiri agar bisa hidup kembali”.

Pada peristiwa ini pikiran-pikiran yang sehat selalu bertentangan dengan keinginan-keinginan untuk menyuntiki dirinya dengan morfin. Mencegah konflik-konflik psikis yang serius dan tidak disadari, bisa sangat mengacaukan regulasi dan Integrasi fungsi- fungsi fisik. Contoh penyakit lambung banyak yang ditimbulkan oleh konflik-konflik batin.


SAKIT DAN PENYAKIT GANGUAN FUNGSI PSIKIS

Prinsip Kesehatan Mental

Prinsip ini menegaskan bahwa yang dikatakan sehat mentalnya tidak cukup kalau dikatakan sebagai orang yang tidak megalami abnormalitas atauorang yang normal. Kesehatan mental adalah konsep yang ideal. Prinsip ini menegaskan bahwa kesehatan mental menjadi tujuan yang amat tinggi bagi seseorang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Yang termasuk faktor internal adalah faktor biologis dan psikologis. Stratifikasi Sosial Holingshead dan Redlich menemukan bahwa terdapat distribusi gangguan mental secara berbeda antara kelompok masyarakat yang berada pada strata sosial tinggi dan rendah. Keluarga Keluarga merupakan lingkungan mikrosistem yang menentukan kepribadian dan kesehatan mental anak. Sekolah Sekolah juga merupakan lingkungan yang turut mempengaruhi terhadap perkembangan kesehatan mental anak .Individu yang otonom dan mandiri dapat bekerja secara interdependen atau kooperatif dengan orang lain tanpa kehilangan otonominya.

Selain itu juga orang sakit ini ada yang membagi dalam tiga kelompok, yaitu

Orang yang sungguh-sungguh sakit, dan mereka sangat terganggu karena penyakit dan beban yang mereka alami atau derita. Orang yang merasa dirinya sakit dan tidak yakin bahwa dirinya sebenarnya tidak apa-apa atau terganggu. Orang yang jelas sakit tetapi dirinya tidak merasakan bahwa dianya sakit. Rasa sakit proses mekanistik.Teknik-teknik untuk mengontrol rasa sakit dapat mencakup penggunaan obatobatan, operasi, Kontrol sensoris-counterirritation, biofeedback, teknik relaksasi, hipnotis, akupuntur, ditraksi, teknik coping, guided imagery, serta teknik kognitif perilaku.

  

PENYEBAB GANGGUAN PSIKIS : FAKTOR MULTI-KAUSAL

Diagnostik multikausal merupakan gabungan dari beberapa faktor gangguan atau penyakit yang beroperasi secara bersamaan. Dengan demikian pengoperasian faktor tersebut dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan atau psikis yang multikausal. Faktor organik atau fisik seperti penyakit, terutama penyakit yang tidak mudah atau tidak bisa disembuhkan, dimana penyakit menyebabkan kerusakan pada sistem syaraf otak sehingga menimbulkan gangguan-gangguan anomalia/abnormalitas tingkah laku serta menurunnya kesadaran. Orang yang mengkonsumsi alkohol akan merasakan kebebasan.

Orang-orang yang sudah terbiasa mengkonsumsi alkohol akan kesulitan untuk menghentikannya, bahkan akan menambah dosis setiap kalinya untuk mendapatkan efek “kesenangan”lebih lama dalam dirinya. Pada fisik akan merasakan gemetar terus menerus pada sekujur tubuh yang kemudian mengakibatkan insomnia serta keracunan alkohol yang dapat merusak sistem syaraf otak. Pasien akan merasakan kebingungan karena mudah lupa lalu terjadi disorientasi pada lingkungan serta mengalami polyneuritis dan kerusakan pada sistem syaraf yang mengakibatkan kelumpuhan pada otot-otot. Selain itu dapat terjadi nystagmus, yaitu ayunan yang cepat bola mata yang tidak terkendali pada penderita.

Orang alkoholik cenderung kesulitan memiliki nafsu makan, hal ini dikarenakan alkohol yang sifatnya “berkalori tinggi”sehingga mengurangi selera makan. Gangguan-gangguan psikis dalam wujud neurosis, psikosis, dan psikopat merupakan keadaan yang cenderung patologis dari tempramen tempramen. Pada tipe kepribadian amorf dan apatis, gejala-gejala gangguanp psikis yang khas hampir tidak pernah muncul. Misalnya pada tipe nerveus dan sentimentil, banyak kita jumpai varian dengan warna-perasaan yang buram dan negatif depresif, karena individu sifatnya sangat emosional, namun tidak aktif.

Pada tipe sanguinikus dan kholerikus, biasanya terdapat warna-perasaan yang positif. Selanjutnya ekstremitas dari temperamennya bisa menyebabkan gangguan-gangguan psikis yang mendorong individu menjadi kriminal. Misalnya kelompok yang bersifat primer dan impulsif sekali, dengan mekanisme reaksi yang sangat cepat dan amat peka terhadap penghinaan-penghinaan, biasanya meledak-ledak eksplosif mereaksi terhadap hal-hal kecil. Ke dua faktor ini membuat mereka tidak pernah berani mengatasi segala ke sukaran dalam hidupnya, dan tidak sanggup mencari jalan keluar yang wajar.

Tipe-tipe nerveus yang sering bertingkah-laku histeria dan selalu gelisah dikejar-kejar oleh macam-macam dorongan paksaan , biasanya menjadi pemburab pembunuh dengan medium racun, menjadi bandit-bait kejam, dan pembunuh-pembunuh yang tidak mempunyai belas kasihan pada sesama hidup. Keluarga dengan ayah-bundayang tidak mampu berfungsi sebagai pendidik, yang defisien sebagai pendidik gangguan-gangguan psikis pada diri anak itu erat kaitannya dengan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh orang tua, sehingga anak tidak bisa menjadi dewasa secara psikis, dan tidak bisa mandiri dalam kedewasa anaknya. Orang tua tidak mampu menyalurkan impuls-impuls anak melalui kanal-penyalur yang wajar, sesuai dengan norma-norma susila. Anak-anak itu pada umumnya ditolak oleh orang tuanya, dan diper lakukan secara kejam via agresivitas orang tuanya, namun sekaligus mereka dibuat sangat bergantung dengan dependensinya yang besar kepada orang tuanya.

Di dalam lingkungan keluarga yang memprodusir anak-anak psikotis, anak-anak itu tidak pernah merasa aman dan pasti. Sikap-sikap bermusuhan dan agresivitas yang destruktif, baik yang langsung ditujukan kepada anak, maupun yang tidak dengan sengaja dialami oleh anak. Juga membangun ide-ide yang kontroversial berlawanan, sektaris, mengembangkan delusi-delusi kebesaran , sikap-sikap yang munafik orang tua, semua itu menghambat anak untuk tumbuh, bersikap wajar serta waras. Dependensi dan identifikasi secara total kepada salah-satu atau kedua orang tuanya, yang kemudian berbenturan dengan keinginan anak untuk menjadi mandiri zelfstandig, dan melawan berkemauan sendiri.

Diusahakan adanya proses identifikasi anak terhadap orang tua yang sehat sifatnya. Maka relasi anak dengan orang tua serta lingkungan sosial yang lebih luas itu sangat bergantung pada identifikasi yang sehat tadi. Orang tua harus selalu membimbing dan mendorong agar anak anaknya mampu menentukan sikap, membuat rencana hidup serta memilih arah dan tujuan finalnya Dengan keberanian serta tanggung jawab sendiri anak didorong untuk meraih tujuan-tujuan hidup yang diinginkan. Semua ini merupakan contoh yang utama bagi anak.

Keluarga yang memberikan pengaruh-pengaruh buruk dan membuat orang lain “menjadi gila”itu jelas tidak melatih anak untuk belajar melakukan adaptasi. Juga semakin banyak yang menjadi neurotis dan psikotis. Oleh kecemasan-kecemasan dan panik, mereka mengalami dekompensasi, derialisasi dan depersonalisasi, yang bisa berkembang menjadi gejala neurosa atau psikose. Muncul pula banyak gejala autism dan egosentrisitas yang ekstrim, sehingga orang tidak bisa bersentuh sama sekali oleh kehadiran orang lain atau oleh masalahnya orang lain.

  

GANGGUAN KESADARAN

Memahami pengertian dari kesadaran dan ketidaksadaran Zeman menguraikan bahwa kata consciousness berasal dari bahasa Latin conscio yang dibentuk dari kata cum yang berarti with dan scio yang berarti know . Seperti halnya seseorang yang sedang berinteraksi antara dua orang atau lebih, selama berinteraksi mereka memberikan informasi satu sama lain.

Archetype
Arcbetypen juga merupakan stuktur gepraeformeed yang timbul dari pengalaman manusia sejak zaman purba. Bayang-bayang merupakan bagian dari totalitas kepribadian manusia yaitu “belahan gelap”dan inferioritas yang disadari. Bayang-bayang terdiri atas fungsi yang tidak atau belum jelas dan inferior yang kemudian didesakkan kedalam ketidaksadaran, karena alas an moral dan intelektual. Karena itu bayang-bayang dianggap “tidak sesuai”dengan prinsip yang dianut oleh kesadaran.

Proyeksi yang demikian berlangsung dengan ketidaksadaran dan diluar kemauan sendiri. Bayang-bayang yang diharapkan ada pada pihak pria oleh si wanita disebut sebagai animus, dan bayang-bayang yang diharapkan ada pada pihak wanita oleh pria disebut sebagai anima. Pada keadaan menurunnya kesadaran tingkat serius, tidak dimugkinkan proses berfikir yang terarah. Apabila keadaan kesadaran kita berlangsung normal, maka daya tanggapan indera-indera kita benar-benar dalam kondisi yang jernih. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai juga jelas. Sedang impuls-impuls yang meletup-letup keluar secara spontan, bisa direm dan bisa dikendalikan. Di tengah jalan ia membeli sebilah golok, yang disembunyikan di balik sarungnya.

Namun dia tidak bisa menjawab, mengapa dia dalam keadaan begitu dan berbuat sesadis itu. Dia lalu memasuki suatu kedai yang ditunggui oleh beberapa janda cantik. Di tempat ini ia sengaja membuat ricuh, menantang siapa pun juga, dan tidak bisa berpikir waras lagi. Lalu membunuh beberapa laki-laki yang kebetulan lewat di depan kedai tadi.

Setelah-kejadian itu berlangsung, pemuda yang bersangkutan sama sekali tidak mampu mengingat semua tingkah-laku amuknya itu.

 

GANGGUAN KESADARAN DIRI DALAM WUJUD DEREALISASI DAN DEPERSONALISASI

Derealiasi dan Depersonalisasi

Gangguan kesadaran berupa tidak mengenal kembali lingkungan sekitar dengan benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya sudah dimaklumi setiap saat itu disebut proses pemutaran, penggeseran dan pemalusan lingkungan sekitar, juga disebut derealisasi. Dalam hal ini derealisasi diartikan sebagai tanggapan sangat keliru mengenai dunia sekitar atau realitas yang ada, yang diputarbalikan, dipalsukan, atau bergeser dari realitas sebenarnya. Derealisasi dan depersonalisasi itu biasanya disebabkan oleh kondisi kelelahan yang sangat hebat, atau orang baru dari rasa sakit yang berat. Mereka mengalami pengalaman sensori yang tidak biasa contohnya ukuran tangan dan kaki mereka tampak berubah secara drastis atau suara mereka terdengar asing bagi mereka sendiri.

Kadangkala mereka merasa seperti mesin, seolah-olah mereka dan orang-orang lain adalah robot atau mereka seolah bergerak di dunia yang tidak nyata. Kesadaran sebagai subjek yang aktif. Subjek secara aktif berbuat dan melakukan semua penginderaan dengan spontan dan dengan sendirinya secara otomatis, karena terbiasa setiap harinya, ada kesadaran diri yang spontan. Ada kesadaran mengenai perbedaan dan persamaan antara diriku setahun yang lalu, sekarang dengan diriku setahun lagi.

Pada orang yang mengalami depersonalisasi, perasaan luluh-menyatu dengan waktu secara berkesinambungan itu sudah tidak ada. Orang tersebut tidak bisa membedakan antara dahulu kala, kemarin, sekarang dan besok. Kesadaran sebagai “bhinneka tunggal ika”, yaitu kesadaran bahwa tubuh dan jiwanya terdiri atas unsur-unsur dan bagian-bagian yang terintegrasi menjadi satu kesatuan utuh. Kesadaran sebagai individu dan makhluk sosial yang harus berkomunikasi dengan dunia luar. Sejak lahir, manusia sudah menampilkan ciri-ciri yang karakteristik, juga memiliki sifat-sifat yang individual. Maka oleh perbedaan-perbedaan individual setiap orang merupakan pribadi yang khas dan unik, tunggal, tidak sama dengan individu lain, tidak ada duanya. Dengan kata lain, individu yang sehat rohaninya itu menyadari kedudukan dirinya sebagai “subjek”yang menghayati lingkungan sosialnya sebagai “objek”. Contohnya seorang anak yang berdiri sendiri, terpisah secara total dari masyarakat dan pengaruh kultural orang dewasa, tidak mungkin dapat berkembang menjadi manusia normal karena tanpa adanya bantuan orangtua, anak akan mati.

Manusia tidak mungkin mencapai taraf kemanusiaan yang normal tanpa bantuan manusia lain. Oleh sebab itu, kemanusiaan bukan milik perorangan, akan tetapi merupakan satu taraf yang berproses dalam lingkungan manusia. Keluarga dan lingkungan social sangat penting untuk dihayati sebagai bagian dari diri sendiri karena manusia dilahirkan, dirawat dan dididik oleh manusia lainnya seperti keluarga dan orang-orang disekitarnya, karena itulah mengapa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial yang harus hidup membudaya di tengah masyarakat. Baik pribadi individu, maupun ciri sosialnya , dan lingkungan sosial, ketiganya sama pentingnya dan tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lain.

Perkembangan yang sehat akan berlangsung, jika kombinasi dari potensialisasi individual yang kodrati, sosialitas dan lingkungan sosial itu berjalan dengan harmonis dan imbang keadaannya. Inilah yang disebut sebagi konvergensi dari faktor-faktor endogen dan faktor eksogen , keduanya harus bisa bekerjasama. Seorang yang sehat secara psikis akan menyadari adanya batas dirinya dengan dunia sekitar. Akan tetapi pada saat yang sama juga menyadari bahwa dirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungannya dan harus terus-menerus berkomunikasi dengan dunia luar agar individu tersebut dapat menjadi manusia yang dikatakan normal.

Dalam hal ini, individu yang bersangkutan merasa jauh dari lingkungannya, merasa asing, merasa tidak mengerti dan tidak dimengerti oleh lingkungannya. Pasien tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri dan di luar dirinya. Muncullah kemudian perasaan “hilang hanyut”, tenggelam tidak berdaya kemudian identitas diri menghilang. Jika kualitas pengalaman sendiri yang diungkapkan secara spontan itu tidak sesua dengan realita, maka individu yang bersangkutan mengalami delusi atau waham.

Misalnya seseorang yang menyatakan dirinya sebagai Nabi penebus atau Waliullah. Peralihan derealisasi-depersonalisasi menjadi delusi itu akan jelas tampak, apabila ciri “merasa seperti”itu benar-benar sudah lenyap dan individu yang bersangkutan menganggap atau mengatakan dirinya betul-betul menjadi seperti itu. Pada peristiwa derealisasi dan depersonalisasi itu ada sesuatu yang hilang yaitu perasaan sudah mengenal, kesadaran diri dan kaitan dirinya dengan lingkungannya. Sehingga muncullah perubahan-perubahan pada tingkah laku dalam wujud perilaku yang aneh-aneh, tidak wajar, tidak pas dengan situasi, eksentrik dan kegila-gilaan.

Ini merupakan pengalaman penuh kebahagiaan yang tidak bisa diukur besarnya. Contohnya adalah jika seseorang mengadakan kontak seksual yang sangat intens dengan seorang partner yang teramat dicintai, maka dalam pengalaman bersatunya tubuh disertai dengan orgasme, maka itu bisa berlangsung pengalaman depersonalisasi dengan tanda plus atau positif. Banyak orang yang menganggap pengalaman tersebut sebagai pengalaman puncak, seperti pada pengalaman-pengalaman religius dan rasa bertaubat dari segenap dosa, serta upaya meluluhkan diri dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengalaman tersebut memberikan arti atau makna yang sangat mendalam dan membekas.

Juga bisa berlangsung pada proses kesembuhan pada penderita neurosa yang mengalami depresi, ketika mereka itu mendapatkan wawasan atau insight bahwa segala perilaku mereka di masa lampau itu adalah salah dan menyimpang dari norma wajar, maka seseorang perlu bertaubat serta membetulkan kesalahan tingkah laku tadi.

Masalah Kesadaran dan Kecanduan Ganja Serta Bahan Narkotika

Jenis narkotika ini mempengaruhi syaraf dan jiwa bagi penderita dengan cepat dan keras. Pada kategori ini, memiliki waktu ketagihan yang relative pendek. Tetapi jika si pemakai tidak mendapatkan narkotik tersebut, maka ia dapat mati karenanya. Jenis narkotik ini dapat mempengaruhi jiwa dan syaraf penderita tidak terlalu keras, karena merupakan jenis narkotika yang alami.

Pada kategori ini, memiliki waktu ketagihan yang agak panjang. Hard drugs dan soft drugs, keduanya menimbulkan efek memabukkan dan membius sehingga membuat pemakainya menjadi membuai dalam khayalan halusinasi. Inilah merupakan dari perasaan “high”atau “fly”atau “syur”yang berlangsung beberapa menit. Tetapi pengalaman tersebut sama sekali tidak memberikan makna bagi kehidupan pribadi. Bahkan dampaknya sama sekali tidak membangun watak dan kepribadian, tetapi justru merusak jiwa dan raga pemakainya. Sistem syaraf lemah atau rusak total, timbul kerusakan lainnya pada hati dan jantung. Bahkan kondisi tubuh jadi rusak karena macam-macam penyakit fisik yang lainnya. Menjadi mudah tersinggung, mudah marah, sangat eksplosif, hati nurani melemah. Semua tingkah lakunya hampir tidak terkendalikan oleh kesadarannya. Bila pecandu sudah tidak memiliki uang, tetapi badan dan jiwa terus ketagihan oleh drugs, maka para pecandu tersebut akan melakukan macam-macam tindakan kriminal. Semua itu menjadi masalah social yang mengganggu ketentraman masyarakat dan tidak mudah untuk diberantas.


GANGGUAN FUNGSI PENGENALAN

Pengenalan

Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi sensori yang tidak terjadi dalam realitas . Proses terjadinya halusinasi diawali dengan seseorang yang mengalami halusinasi dan menganggap sumber dari halusinasinya berasal dari lingkungan stimulus eksternal. Pada fase awal masalah itu menimbulkan peningkatan kecemasan yang terus menerus dan system pendukung yang kurang akan membuat persepsi untuk membedakan yang dipikirkan dengan perasaan sendiri, pasien sulit tidur sehingga terbiasa menghayal dan pasien bisa menganggap lamunan itu sebagai pemecahan masalah. Meningkatnya pula fase comforting, klien mengalami emosi yang berlanjut seperti cemas,kesepian, perasaan berdosa dan sensorinya dapat diatur.

Halusinasinya akan muncul kembali jika pasien tidak mampu mengontrol halusinasinya dan berupa menjaga jarak dengan obyek yang dipresepsikan. Faktor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan yang memerlukan energi ekstra untuk menghadapinya. Adanya rangsangan dari lingkungan, seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak berkomunikasi, objek yang ada dilingkungan, dan juga suasana sepi atau terisolasi sering menjadi pencetus terjadinya halusinasi.

Lebih sering terjaadi pada keadaan delirium Halusinasi penciuman Halusinasi pengecapan Halusinasi perabaan Halusinasi kinistetik

Kebanyakan halusinasi muncul akibat banyaknya waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik oleh klien. Untuk itu, klien perlu dilatih menyusun rencana kegiatan dari pagi sejak bangun pagi sampai malam menjelang tidur dengan kegiatan yang bermanfaat.

Pseudo-halusinasiadalah peristiwa yang dihayati sebagai tanggapan, dan bukan sebagai “sepertinya satu pengamatan”Genetik

Kendler mencatat adanya prevalensi keluarga pasien dengan gangguan delusional lebih rendah mengalami skizofrenia dibandingkan keluarga dengan skizofrenia itu sendiri . Individu dengan gangguan delusi cenderung berjenis kelamin perempuan daripada laki-laki. Seringkali ditemui pada orang yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Saat mendapat diagnose, laki-laki cenderung mengalami delusi terlebih dahulu dibanding perempuan yang justru mendapat diagnosis ketika memasuki usia tua.

Delusi jenis ini sering disebut sebagai delusi megalomania Orang dengan delusi jenis ini akan berkhayal memiliki status sosial yang tinggi, menjadi tokoh terkenal, dan merasa memiliki kekuasaan yang besar.

Delusi jenis ini menggambarkan bahwa penyintas merasa amat dicintai oleh orang lain Delusi Grandios

Jenis delusi ini berkaitan erat dengan permasalahan kesetiaan pasangan, maka dari itu jenis delusi ini kerap kali disebut sebagai paranoia conjugal atau sindrom Othello. Namun prevalensinya sangat rendah, yakni hanya sebesar 0,2% dari semua pasien psikiatrik. Gejalanya sering muncul tiba-tiba dan menghiang begitu saja setelah berpisah dengan pasangan. Jenis delusi ini membuat penyintas merasa ada yang salah dalam tubuhnya. Kebanyakan pengobatan psikoterapi pada pasien dengan gangguan delusi perlu dibersamai dengan pengobatan farmakologi untuk mendapat hasil yang maksimal. Pada proses psikoterapi, terapis akan menghindari konfrontasi panas dengan pasien tentang isi delusi mereka, tapi merefleksikan kenyataan kepada pasien di waktu yang tepat. Ketika menghadapi kasus pasien keras kepala, dokter yang menangani kasus bisa membantu mengarahkan pasien ke kehidupan yang lebih bahagia dan membiarkan mereka hidup secara damai dengan delusi mereka. Secara bersamaan, dokter akan mengajarkan pasien tentang bagaimana menangani krisis dengan cara positif ketika mereka menghadapi tekanan tiba-tiba.

 

GANGGUAN PADA FUNGSI BERFIKIR

Berpikir Deduktif

Berbeda dengan berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsungu dari yang umum menuju yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggap benar dan sudah bersifat umum. Begitulah cara penerapannya kepada fenomenanfenomena khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut. Semua anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif akan mudah terserang penyakit .

Iwan adalah anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif . Menurut DSM-IV demensia adalah suatu penurunan kemampuan intelektual yang dapat menyebabkan perubahan perilaku, gangguan pada kehidupan sosial, serta gangguan pada aktivitas sehari-hari. Pikun merupakan gejala yang terjadi pada orang lanjut usia, biasanya pikun berkembang secara perlahan dimulai dengan stres ringan, kecemasan berlebihan atau gejala kebingungan. Lama-kelamaan akan menunjukkan gejala yang lebih parah sehingga kemampuan intelektualnya juga menurun.

Menurut Kusumoputro menjelaskan demensia adalah gejala di mana seseorang mengalami kehilangan kemampuan kognisi yang sedemikian berat sehingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan. Beberapa aktivitas yang tidak bisa dilakukan penderita demensia adalah seperti melakukan hobi, mengatur keuangan, bepergian sendirian, memasak, menggunakan telepon, makan dan berbagai aktivitas sehari-hari lainnya. Menurut WHO pada tahun 2010 menjelaskan bahwa skizofrenia merupakan gangguan mental berat yang ditandai dengan adanya gangguan dalam pikiran, bahasa, persepsi, dan esadran diri. Persepsi-persepsi yang muncul dari pikiran negatif penderita akan memicu tumbuhnya tekanan mental sehingga dapat beresiko mengalami kecemasan, gangguan emosi, stres, depresi bahkan sampai bunuh diri.

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Golberg & Gold pada 2010 tentang fungsi neurokognitif pada skizofrenia bahwa fungsi kognitif menurun secara signifikan selama durasi skizofrenia. Didalam Islam berfikir merupakan keunggulan yang dimiliki oleh manusia, yaitu makhluk yang diciptakan Allah dengan sempurna. ” dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya.”Penjelasan ayat diatas jelas dalam Islam menganjurkan bagi umatnya untuk menggunakan keunggulan berfikir yang diberikan Allah SWT. Agar digunakan untuk hal yang bermanfaat bagi dirinya, dan juga imannya kepada Allah SWT. Umumnya gangguan berfikir menyerang banyak pada individu yang sudah lanjut usia. Seorang yang sudah lanjut usia sering mengalami pikun atau demensia. Dalam ajaran Islam demensia atau pikun diartikan sebagai titik kelemahan yang dialami seseorang. An-Nahl ayat 70 yang artinya “Allah menciptakan kalian, kemudian mewafatkan kalian. Dan di antara kalian ada yang dikembalikan pada umur yang paling lemah , agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. ”Telah memberikan sebagian orang dengan umur yang panjang pada usia lanjut. Sedangkan penjelasan dari arti agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya, hal tersebut agar manusia kembali pada masa kecilnya yang lemah akan pengetahuan, lemah akan ingatan. Selain itu, ayat tersebut juga dapat diartikan agar manusia dapat melupakan hal-hal yang terjadi pada dirinya, seperti kematian orang yang dicintai, kejadian seperti itu akan membuat seseorang lemah berkelanjutan jika tidak diberikannya Allah penderita lupa. Jelas adanya Allah Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui hamba-Nya, semua yang llah berikan kepada hambanya tidak ada yang sia-sia, semua terdapat manfaat-manfaatnya masing-masing, yang seringkali belum kita ketahui.

 

GANGGUAN PADA FUNGSI INTELEGENSI DAN DEMENTIA

Inteligensi atau intelek adalah kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses-proses berpikir. Inteligensi adalah keterampilan untuk memecahkan masalah, juga merupakan untuk belajar dari pengalman-pengalaman. Inteligensi merupakan kemampuan yang diberikan kepada seseorang yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia, keberhasilan dan kesuksesan. Inteligence berasal dari bahasa latin intelectus dan intellegentina yang berarti kekuatan yang melengkapi akal pikiran manusia dengan gagasaan abstrak yang unuversal. Sejak kelahirannya anak manusia membawa potensi-potensi fisik dan psikis yang bisa dikembangkan. Apa yang dilihat, di dengar oleh anak dari sekitarnya, apa yang dialami anak sejak kecil dan apa yang di harapkan oleh orang dewasa dari anak untuk dilakukan itu sangat mempengaruhi intelegensinya.

Sebagai contoh larangan-larangan orang tua terhadap anak untuk mengetahui masalah masalah seks dan urusan-urusan orang dewasa akan melupuhkan daya pikir dan inteligensi anak juga melumpuhkan kebodohan artifisial atau buatan pada anak. Juga perintah yang otoriter dengan segala macam bentuk paksaan dan indoktrinasi, yang memompakan "kebenarankebenaran" sendiri sebagai kriteria panutan yang dipaksakan kepada rakyatnya, akan mempertebal kebodohan buatan rakyat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, ditengah masyarakat dunia kita ini banyak terdapat sistem pembasuhan, pencucician otak yang efektif sekali, dengan mana tidak hanya wawasan jernih rakyat dicuci atau di hapus dicuci bersih akan tetapi juga di tanamkan doktrindoktrin, fiksi-fiksi dan prasangka-prasangka yang keliru, yang melumpuhkan kemampuan berpikir sehat atau inteligensi normal. Prajurit-prajurit yang disalahgunakan untuk tujuan peperangan imperialistis dan agresif dan tidak boleh ikut bermain politik dan harus selalu tunduk adalah contoh yang jelas dari pengkondisian pikiran dan inteligensi rakyat pada zaman modern sekarang.

Maka, berkat kebodohan artifisial yang diperolehnya, prajurit-prajurit tadi membiarkan dirinya tanpa perlawanan dibawa ke arena pembantaian di medan perang atau membunuh diri sendiri menjadi pembunuh-pembunuh potensial. Ada bentuk gangguan-gangguan dan kerusakan atau defek bawaan pada inteligensi, yang mempengaruhi pula fungsi berpikir, yang disebut amentia. Pada idiocy ini cacad jasmaniah dan rohaniahnya amat berat. Pada umumnya dia tidak mampu menjaga diri dan melindungi diri sendiri terhadap bahaya-bahaya dari luar.

Yang dikeluarkan ialah suara semacam bunyi-bunyian binatang, dengkusan, teriakan-teriakan, lengkingan dan ringkikan. Pada idiocy komplit atau absolut, penderita tidak mempunyai kemampuan jiwa, dan mengalami degenerasi secara total. Pada diri mereka ada defektivitas dalam kapasitas edukasinya. Mereka sangat bergantung pada perlindungan dan pertolongan keluarga dan orang tua, karena tidak mampu mendapatkan mata pencaharian sendiri. Derajatnya ada yang rendah, medium dan tinggi. Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol diri, kemampuan koordinasi dan adaptasi yang wajar.mereka bisa diajari dengan menguasai beberapa keterampilan tangan dan mengurus diri sendiri. Selanjutnya kerusakan pada cerebrum atau otak besar juga bisa mengakibatkan timbulnya gangguan-gangguan pada Perkembangan inteligensi pada otak oleh kecelakaan di jalan raya, dan traumata sewaktu bayi lahir. Oleh pemerintahan suatu negara dengan sengaja rakyatnya dibuat tetap dalam keadaan bodoh, sehingga mereka itu dijadikan mesin atau robot-robot yang bisa di manipulir sesuka hati secara politis.mereka tidak usah berpikir dan menggunakan inteligensinya, sebab segala sesuatu sudah dipikirkan oleh para politisi dan penguasa.

Yang penting bagi rakyat ialah harus patuh secara mutlak dan selalu menurut. Tidak ada satu pun fungsi psikis yang beroperasi secara sendiri. Semua itu bekerjasama dan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi. Pada kesadaran yang terganggu, individu sulit memahami lingkungannya, dan sukar melakukan adaptasi.

Kerusakan dan dekadensi/kemunduran pada jaringan-jaringan otak juga mengakibatkan kemerosotan fungsi inteligensi, yang dimulai dengan gangguan pada ingatan, dan fungsi pelekatan pengetahuan dalam ingatan. Demensia adalah kemunduran kognitif yang sedemikian beratnya, sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari-hari dan aktivitas sosial. Kemunduran kognitif pada demensia biasanya diawali dengan kemunduran memori atau daya ingat atau biasa yang sering disebut juga dengan pelupa . Kehilangan kapasitas intelektual pada demensia tidak hanya pada memori atau ingatan saja, tetapi juga pada kognitif dan kepribadian.

Gangguan fungsi kognitif pada lansia terjadi umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf pusat yang meliputi gangguan suplai oksigen ke otak, degenerasi, penyakit alzheimer dan malnutrisi. Lansia yang mengalami gangguan fungsi kognitif sering menghadapi berbagai masalah diantaranya gangguan orientasi waktu, ruang, tempat dan tidak mudah menerima ide baru . Demensia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang dapat dimodifikasi maupun tidak. Usia, genetik dan riwayat penyakit keluarga merupakan faktor tidak dapat dimodifikasi yang mempengaruhi demensia. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi terhadap kejadian demensia adalah hipertensi, diabetes mellitus , hiperlipidemia, merokok .

Ayan itu merupakan penyakit pada kesadaran, karena adanya gangguan pada otak, terutama pada cortex atau kulit-otak. Kesadaran pasien sering hilang, disebabkan oleh instabilitas pada neuron-neuron cortex. Jika serangan epilepsi ini sudah mulai sebelum 7 tahun, akan mengakibatkan kelemahan mental dan hambatan pada perkembangan fungsi-fungsi psikis. Sebelum serangan epilepsi, penderita merasakan gejala auranyaitu merasa pusing, merasa tidak enak pada perut dan punggung selama beberapa detik.

Dia menjadi bingung dan merasakan getaran-getaran dingin, sehingga dia tidak mampu mempersiapkan diri terhadap serangan serangan kekejangan yang timbul mendadak. Lalu dia mengalami auto-stupor, yaitu rasa seperti terbius dan tidak berdaya, serta merasakan kelumpuhan pada sebagian anggota badannya. Sering disertai aphasia, yaitu tidak bisa berbicara sama sekali, dan apraxia yaitu gangguan bercakap-cakap. Moral pasien menjadi semakin rendah, dan ia tidak mampu melakukan adaptasi terhadap lingkungan.

Ada perubahan-perubahan jasmaniah dan mental yang sifatnya degeneratif, sehingga ada kemunduran pada fungsi-fungsi fisik dan psikis. Jika perubahan-perubahan berlangsung dengan cepat, maka terjadilah gejala psikosa usia lanjut atau kegilaan usia tua. Dari perspektif Islam, gejala yang paling khas dari SD adalah hilangnya ingatan dan selanjutnya terjadi penurunan kemampuan kognitif. Ini berbeda dengan kondisi di mana seseorang begitu saja melupakan sesuatu yang akan diingatnya nanti.

Karakteristik utama dari SD adalah penurunan kemampuan kognitif, atau kondisi di mana seseorang 'berhenti untuk mengetahui apa pun dari apa yang pernah diketahuinya dengan sangat baik. ' Dasar biomolekuler dari SD tidak ditentukan dalam sumber tradisi Islam, tetapi dijelaskan oleh penelitian ilmu saraf modern. Ketika berobat, Islam mengizinkan segala jenis perlakuan selama tidak menyimpang darinya syara ' dan tidak melibatkan penggunaan apapun yang haram . Misalnya, transplantasi jaringan yang diambil dari janin yang diaborsi dilarang dari perspektif Islam, tetapi penggunaan sel punca dari orang dewasa dengan persetujuan yang diinformasikan dapat diterima.

Produk alami yang direkomendasikan menurut Islam telah terbukti memiliki khasiat yang mirip dengan beberapa obat konvensional, sehingga berpotensi menjanjikan sebagai terapi. Hal ini sejalan dengan kehidupan umat Islam yang berpedoman pada doa dalam bahasa Arab, lingua-franca sastra dan / atau sumber Islam. Oleh karena itu, mayoritas Muslim yang bukan orang Arab harus setidaknya tahu bahasa Arab, sehingga menambahkan bahasa lain ke dalam penguasaan bahasa mereka.

 

GANGGUAN PADA FUNGSI INGATAN

Ingatan adalah setiap ungkapan, dalam mana kaitan psikis dimanifestasikan dalam dimensi waktu . Ingatan adalah kaitan masa lampau dari pengalaman . Ingatan ialah kemampuuan untuk mencamkan, menyimpan dan memproduksi kembali isi kesadaran. Juga bergantung pada usia. Ingatan yang paling tajam pada manusia ialah kurang lebih pada usia 10 – 14 tahun. Sesudah umur 50 tahun, ingatan menjadi semakin berkurang. Ingatan berhubungan erat dengan emosi – emosi. Maka peristiwa – peristiwa yang menyentuh perasaan akan di ingat baik – baik.

Sedangkan kejadian – kejadian yang tidak menyentuh emosi, akan di abaikan saja. Kemudian juga masalah – masalah yang sudah di pahami, dan sudah di pertimbangkan baik – baik, akan lebih melekat dalam ingatan. Ada ingatan yang setia – baik, dan ada yang tidak. Faktor sugesti dan perasaan memegang peran besar sekali dalam penentuan kualitas ingatan. Maka rasa takut, cemas, ragu – ragu, gugup, minder atau rendah diri dan malu, semuanya berpengaruh buruk terhadap ingatan. Jika pengenalan kembali tersebut ditimbulkan oleh perangsang – perangsang atau impuls – impuls dari luar, maka pengingatan kembali disebabkan oleh perangsang – perangsang dari dalam yang sifatnya internal. Maka usaha dengan sengaja memasukkan dan melekatkan bahan pengenalan dalam ingatan, disebut dengan memorisasi. Melalui pemahaman, orang mencamkan informasi – informasi tertentu dalam ingatan.

Prestasi – prestasi ingatan itu berkaitan dengan kondisi fisik dan psikis tertentu. Pemahaman, insight/wawasan, hubungan logis, pengikhtisaran, irama, melodi dan sajak dari bahan yang diminati, semua bisa memperkuat ingatan, dan mempertinggi prestasi ingatan. Pada kegiatan pencaman dan ingatan, sebaiknya diikutsertakan bekerjanya macam-macam indera lain, misalnya indera-indera pencium, peraba, membaca keras-keras dan lain-lain. Kesan-kesan dengan warna-warna, akan lebih diingat daripada yang tidak berwarna, dan angka-angka.

Kepribadian, watak, sentimen, minat, emosi, fantasi, harapan dan kemauan seseorang mempunyai pengaruh besar terhadap prestasi ingatan. Situasi dan kondisi yang menguntungkan dan menyenangkan, bisa mempertinggi prestasi ingatan. Untuk mempertinggi prestasi ingatan, perlu dibangunkan motivasi-motivasi,emosi-emosi dan kemauan.

Amnesia

Amnesia juga bisa berlangsung definitif, secara tetap, dan hilang untung selama-lamanya. Sifatnya bisa sebagian/parsial saja yang hilang dari ingatan, akan tetapi bisa juga bersifat total, yaitu seluruh kesadaran masa lampau hilang sama sekali, atau terganggu secara total, dan tidak dapat diingat kembali. Kadangkala amnesia berlangsung secara periodik atau berkala. Pada peristiwa gegar otak dan cedera pada otak amnesia ini sering terjadi. Semua kesan masa lalu, sebelum terjadinya kecelakaan, jading hilang, biasanya berlangsung pendek. Disebut pula sebagai tuli-kata/word deafness. Disebut pula sebagai astereognosis atau astereocognosy.

Hambatan pada Reproduksi

Pada proses reproduksi ini penyebab daripada hambatannya yang terutama ialah emosi-emosi. Hal-hal yang dpat mempengaruhi ingatan yaitu seorang pengunaan alkohol terlalu banyak, dan drugs atau bahan-bahan narkotika itu berpengaruh sekali pada proses asosiasi/kaitan dari tanggapan-tanggapan, ingatan dan pada proses reproduksinya. Sedangkan kaitan logisnya juga tidak ada, jadi berpikirnya menjadi kurang logis. Dengan demikian orang tidak mampu mengingat lagi segala pengalaman masa lalu.

Gangguan terhadap reproduksi dekat atau “short memory”c. Gangguan terhadap reproduksi jauh atau “long term memory”atau “remote memory”. Inilah bentuk ingatan berjarak jauh. Banyak fakta yang diperoleh melalui membaca dan studi hanya bisa melekat dalam ingatan dalam waktu yang sangat pendek saja. Oleh karena itu usaha mengulang, informasi itu sangat penting bagi “the long term memory”.

Senilitas dan dementia senilitas

Senilitas= menjadi tua atau jompo, gejala ketuaan. Pada tingkat lanjut, gangguan-gangguan intelek dan emosi bertambah khususnya gangguan pada ingatan. Dalam sebuah penelitian pernah diteliti perihal masalah “Gangguan”Demensia Tife Alzheimer pada Lanjut Usia yang Berdzikir dengan yang tidak Berdzikir`. Menuru islam, ada beberapa kegiatan ibadah yang mencegah terjadinya gangguan ingatan.

Para ulama dan ilmuwan Islam mengatakan, bersiwak menggunakan pohon ara akan membuat ucapan fasih dan membantu mencerdaskan otak. Siwak juga menjauhkan setan dan mengundang datangnya para Malaikat. Selain itu menajamkan penglihatan dan menguatkan daya ingatan.

Shaum

Banyaknya makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh membuat otak melambat dan menyebabkan lemahnya daya ingatan.

Membaca Al-Qur`an

Membaca Al-Qur'an dengan tartil akan membantu seseorang menajamkan ingatannya. Setiap ayat yang dibaca akan merangsang otak dan menjernihkan pikiran.


GANGGUAN FUNGSI PERASAAN

Kata perasaan memiliki beberapa definisi. Kata ini pertama digunakan dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan sensasi fisik sentuhan melalui pengalaman atau persepsi. Kata ini juga digunakan untuk menjelaskan sensasi fisik jauh dari sentuhan seperti “perasaan kehangatan”. Dalam psikologi kata ini sering diartikan untuk pengalaman subjektif sadar mengenai emosi. Afek adalah perasaan dan emosi yang menekankan tingkat kesenangan atau kesedihan pada kualitas senang dan tidak senang, nyaman dan tidak nyaman yang mewarnai perasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata Afek adalah perubahan perasaan karena tanggapan dalam kesadaran seseorang . Bersama dengan dua aspek lainnya, yakni kognitif dan konatif , emosi atau yang sering disebut aspek afektif, merupakan penentu sikap, salah satu predisposisi perilaku manusia. Namun tidak banyak yang mempermasalahkan aspek emosi hingga muncul Daniel Goleman yang mengangkatnya menjadi topik utama di bukunya.

Kecerdasan emosi memang bukanlah konsep baru dalam dunia psikologi. Orang-orang yang optimistis lebih banyak dimuati oleh perasaan-perasaan eukoloi. Dia cenderung melihat semua pengalaman dari segi-segi yang indah dan menyenangkan. Sebaliknya, individu yang dihinggapi dyskoloi cende rung melihat segala peristiwa dengan rasa duka, tidak senang, cemas atau takut, dan penuh pesimisme.
Perasaan indriawi dihayati melalui alat indria, alat pencernaan, pernafasan dan organisme lain yang erat kaitannya dengan perangsang perangsang fisik. liknya merasa susah dan tidak puas, karena tidak bisa memahami. serta tidak mampu memecahkan kesulitannya. Oleh bimbingan hati nurani orang bertindak sesuai de ngan norma-norma kebenaran.

Maka menurut Stekel , psikoneurosa adalah bentuk pe. nyakit dari hati nurani manusia. Pribadi yang mampu menampilkan rasa estetisnya ke dalam bentuk-bentuk konkret yang indah disebut seniman atau seniwati. Maka seni adalah segala sesuatu yang dibuat untuk bisa menimbulkan rasa indah, baik bagi diri sendir maupun bagi orang lain.

Mencipta seni dan menikmati seni memberikan kesenangan dan kebahagiaan yang sangat dalam. Antara lain berus takjub, kagum, percaya, yakın, keimanan, tawakal, pasrah diri, renda hati. Perasaan religious digolongkan ke dalam perstiwa psikis yang paling agung, tinggi dan luhur, dan sering menjadi dasar bagi perbuatan-perta nobel atau mulia. Juga bisa menimbulkan penghayatan kerana paling dalam. Perasaan sedemikian bisa dialami oleh setiap orang tidak bergantung pada satu keyakinan agama tertentu. Tingkat paling tinggi dan sangat khusus dari perasaan religius itu munc pada saat kita bertaubat. Menurut Thayer suasana hati adalah perasaan-perasaan yang cenderung kurang intens dan yang terjadi karena Suasana hati merupakan suatu keaadaaan yang dialami dalam kehidupan manusia, sedikit banyaknya suasana hati bisa dipengaruhi oleh cara berinteraksi antara satu individu dengan individu yang lainnya di dalam suatu lingkungan sosial . Menurut Santosa hubungan sosial merupakan salah satu hubungan yang harus dilaksanakan mengandung perngertian bahwa dalam hubungan itu setiap individu menyadari tentang kehadirannya disamping individu lain.

Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya .

Adanya Proses-proses Maleriil Pada Cerebrum

Ada bahan obat-obatan tertentu yang bisa menurunkan tingkat stemming dasar, sehingga mengakibatkan timbulnya depresi. Juga macam-macam obat tidur dan opiat bisa membawa kita pada ming dasar yang menyenangkan. Akan tetapi sekaligus juga mengaki batkan munculnya stemming yang malas, tidak aktif, terus mengantuk dan lengung, Dalam hal ini, peningkatan pada niveau stemming dasar dengan serentak menurunnya kesadaran. Jika kita merasa gamang khawatir terhadap sesuatu yang jelas, misal nya pada harimau atau orang gila yang mengamuk, maka itu disebut takut. Jadi sesuatu yang menakutkan itu sudah jelas, karena berbentuk bahaya atau sesuatu yang mengancam keselamatan diri kita. Sedang kecemasan, oleh sifatnya yang tidak jelas benar dan difus, digolongkan dalam kategori stemming atau suasana hati. Selanjutnya, gejala-gejala pengikut pada kecemasan dan equivalen. Kecemasan psikolis adalah kecemasan karena merasa terancam hidupnya, dan kacau-balau, ditambah kebingungan yang hebat discbabkan oleh depersonalisasi dan disorganisasi psikis.

Psikoneurosa

Oleh pengkondisian yang buruk dari lingkungan sosial yang sang tidak menguntungkan, muncul kemudian banyak ketegangan dan kece masar, serta simptom-simptom mental yang patologis atau gangguan mental yang disebut neurosa.

Hysteria

Pada umumnya geral histeria muncul disebabkan oleh usaha represi atau hadap macam-macam konflik internal.

Neurashtania

Perasaan sangat lesu lelah selalu ada, sekalipun individu yang bersangkutan tidak sakit secara jasmaniah. Ada perasaan-perasaan rendah diri dan selalu merasa cemas akan melakukan kegagalan. Rasa lemah dan lelah itu khususnya dipakai sebagai alat atau alasan untuk menghindari pertang gungan jawab, dan mengharapkan belas kasihan orang lain terhadap dirinya.

Hipokondria

Selalu merasakan ketakutan dan kecemasan yang patologis terhadap kesehatan badan sendiri. Pasien merasa yakin benar bahwa dirinya mengidap penyakit yang serius. Setiap simptom kesakitan sekecil-kecilnya pun dirasakan sebagai suatu bencana luar biasa yang akan melanda dirinya. Dia merasa cemas kalau semua “penyakit”tadi menyebabkan kematiannya.

Psikosomatisme

Ada kaitan antara tubuh dengan jiwa. Contohnya, kemunculan emosi-emosi tertentu bisa disebabkan oleh faktor mental, namun juga oleh faktor jasmaniah. Maka jelas ada interdependensi atau saling ke tergantungan antara proses mental dengan fungsi somatis.

Hypertension

Hypertension Adalah tekanan darah tinggi dengan ketegangan yang tinggi. Emosi-emosi yang sangat kuat dan kecemasan-kecemasan yang sangat kuat menjelma menjadi reaksi somatisme.

Peptic Ulcer

Peptic ulcer ini asal mulanya berupa peradangan, disebabkan oleh terlampau banyaknya asam-lambung dengan konsentrasi yang sangat kuat dalam usus 12 jari atau deodenum. Perasaan merupakan bagian terpenting dari kehidupan psikis. hagia tidaknya seorang sangat ditentukan oleh kepuasan-kepuasan afektifnya. Perasaan juga bergantung pada pemuasan keinginan keinginan, dambaan-dambaan, harapan-harapan dan kebutuhan kebutuhan.

Jika segala sesuatu yang kita inginkan itu terpenuhi, maka timbullah perasaan-perasaan positif. Sebaliknya apabila tidak terpenuhi, muncullah perasaan-perasaan negatif, misalnya takut, kecewa, sedih, cemas, putus asa, dan lain-lain. Jadi perasaan senang bahagia itu bersambungan dengan keberhasilan sedang rasa sedih-malang berhubungan dengan kegagalan-kegagalan. Maka ritme perasaan ditentukan sekali oleh irama dari ketegangan kecemasan serta pengenduran-pengenduran/relaxing.

 

GANGGUAN PADA FUNGSI KEMAUAN (KONASI DAN KONOTASI)

Kemauan yang identik dengan dorongan, sifatnya masih primer belum terarah dan tidak berisi intensi apa-apa. Contohnya kegelisahan dan usaha menyibukkan diri, namun tidak tahu persis apa yang mau dilakukan. Kemauan yang identik dengan nafus-alamiah, hampir-hampir tidak sadar mengarah pada suatu tujuan. Kemauan sebagai “wilsakten”, sifatnya aktif karena ada patokan dan tujuan yang disadari dan akan dicapainya.

Ada pilihan dan penentuan sendiri yang didukung oleh pertimbangan akal. Jadi, kemauan pada taraf ini merupakan inti dari kehidupan yang personlich atau pribadi sifatnya, dan merupakan kemauan bebas yang betul-betul bebas merdeka. Tipe yang naif, tanpa konflik-konflik, kurang adanya kemauan dan pemawasan diri atau selfbesinnung. Tipe ini banyak terdapat pada orang-orang yang aktif, primer, kholerikus dan sanguinikus, yaitu tipe orang yang tidak takut menghadapi masa depan. Tipe yang selalu bimbang, tidak memiliki tempat berpegang, dan tidak pernah sampai pada kemauan sendiri dan penentuan sendiri. Tipe pengikut tanpa kemauan sama sekali, yang pada akhirnya selalu menyerah kalah pada setiap tantangan, dan secara sia-sia melawan sentimen-sentimen sendiri, yaitu tipe sentimentil yaitu suka menyendiri, bersifat tertutup pada orang lain. Yang selalu menekan secara kronis. Terdapat pada tipe karakter yang mengidap kompulsia-paksaan dan tipe gepassionerd, seperti selalu sibuk dan rajin, penuh cita-cita besar. Menolak secara sistematis, karena perasaan kebanggaan atau kesombongan yang “hiroistik”. Terdapat pada karakter yang kaku, terutama pada tipe gepassioneerd.

Kompulasi merupakan dimana keadaan terasa terdorong agar melakukan suatu tindakan yang tidak rasional

Kompulsi adalah tendens atau implus/dorongan yang tidak tertahankan atau tidak bisa di cegah untuk melakukan suatu perbuatan, merupakan tendensi keinginan yang tidak bisa dikontrol dan dikendalikan dan bertentangan dengan kemauan yang sadar sewaktu melakukannya. Obsessi adalah ide – ide atau emosi – emosi “imperative”keharusan yang terus menerus melekat dan tidak mau hilang, sungguhpun individu yang bersangkutan dengan sadar berusaha keras untuk menghilangkannya. Tics adalah macam – macam gerak facial seperti dipaksakan, merupakan gerakan gerakan pengejangan yang habitual dari satu kelompok kecil otot – otot. Perbuatan Kortsluiting adalah perbuatan nafsu yang tidak terkendali, tanpa pertimbangan akal dan hampir – hampir tidak disadari didorong oleh implus – implus yang luar biasa kuatnya.

Dementia merupakan sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan pada fungsi otak. Kepribadian psikopatik merupakan suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap tidak sensitif, kasar, manipulatif, mencari sensasi dan antisosial. Psikastenia merupakan kelainan psikologis yang ditandai dengan fobia dan kecemasan yang berlebih. Dari contoh-contoh yang diatas maka akan bisa disimpulkan bahwa seseorang akan berhasil atau tidak, sangatlah ditentukan oleh adanya sifat KEMAUAN untuk mencapai suatu keberhasilan.


DEFISIEN/DEFEK MORAL

Defisien Moral

Defisien/defek moral adalah kondisi individu yang hidupnya delinquent (nakal, jahat), selalu melakukan kejahatan, dan bertingkah laku anti sosial. Namun tanpa adanya penyimpangan atau gangguan organis pada fungsi inteleknya, hanya saja inteleknya tidak berfungsi dengan baik, sehingga terjadi kebekuan moral yang kronis. Individu yang memiliki defek moral cenderung psikotis dan mengalami regresi, dengan penyimpangan-penyimpangan relasi kemanusiaan. Sikap orang-orang yang defek mentalnya, cenderung bersikap dingin, beku, dan tanpa afeksi. Emosinya steril terhadap sesama manusia; munafik, jahat, sangat egoistis, self-centered, tidak menghargai orang lain. Tingkah lakunya selalu salah dan jahat (misconduct); sering melakukan kekerasan, kejahatan, penyerangan. Individu seperti ini cenderung selalu melanggar hukum, norma dan standar sosial. Sedangkan kelemahan utama yang dimiliki oleh individu dengan defek moral adalah ketidakmampuannya untuk mengenali, memahami, mengendalikan dan melakukan regulasi terhadap emosi-emosi dan tingkahlaku sendiri. Mereka cenderung tidak dapat dipercaya dan kualitas mental yang mereka miliki pada umumnya rendah.

Anak-anak yang Bubrah

Anak-anak bubrah (rusak, damaged childern) adalah anak-anak dengan perkembangan pribadi yang regresif serta kerusakan pada fungsi intelek, sehingga interrelasi kemanusiaannya menjadi miskin, beku, steril tanpa afeksi; disertai penolakan terhadap super ego dan hati nurani sendiri, hingga muncul kebekuan moral. Mereka digolongkan dalam kelompok defek moral. Banyak dari mereka yang mengalami autistis (gangguan perkembangan dalam berkomunikasi, interaksi sosial) dan psikotis, dengan retardasi mental yang berat. Ada dari mereka yang memperlihatkan gerakan-gerakan yang tipis, yaitu “rocking movement” (gerakan-gerakan goyang-goyang terus-menerus) dibarengi gejala-gejala erotik yang primitive.

Adapun faktor penting yang menyebabkan anak bubrah ini, ialah:

a.       Terpisahnya mereka dengan orang tua pada usia kurang dari tiga tahun, khususnya berpisah dengan ibunya.

b.      Anak-anak yang diasuh di rumah sakit, rumah yatim piatu dan panti-panti penitipan, dan tidak pernah merasakan kasih sayang. Bahkan mereka mendapat 5 perlakuan yang keras dan kejam, sehingga muncul rasa-rasa dendam, agresi, kebekuan emosional dan interrelasi sosial yang sangat miskin.

Anak-anak bubrah ini kebanyakan akan menjadi orang dewasa yang defisien moral. Sebab dari usia yang sangat muda mereka sudah mengalami defek/rusak mental yang permanen, sebagai akibat pengaruh lingkungan yang kejam dan buruk.

Anak-anak bubrah dengan defek moral itu pada umumnya mengalami kekacauan/disorder mental, dan sangat labil kepribadiannya. Ciri khas anak bubrah dan orang dewasa yang defek moral antara lain sebagai berikut:

a.       Secara fisik dan organik mereka labil, normal; tidak berbeda dengan orang normal. Ada yang sangat pandai dan briliant, pintar berbicara, dan cerdik menarik. Tetapi mereka keras kepala, banyak tingkah, tidak bisa diperhitungkan, mudah berubah, dan sangat munafik.

b.      Tidak toleran, suka melanggar aturan, disiplin, norma dan otoritas. Mereka jadi penyimpang dan penjahat yang permanen.

c.       Sangat sombong, ada over-estimasi (penilaian-lebih) terhadap diri sendiri, tidak tahu malu, dan tidak tahu harga diri; tidak bisa belajar dari pengalaman-pengalaman terutama kebaikan.

d.      Tidak tahu belas kasih, tanpa mengenal afeksi, tidak pernah merasa bersalah atau berdosa, dan mau menang sendiri, sangat egosentris, tidak mau memperdulikan hak orang lain. Sehingga selalu menghina dan menerjang perasaan orang lain dengan perangainya yang sangat kasar.

e.       Tidak punya kesadaran bertanggung jawab secara susila. Sejak usia muda mereka sudah belajar mencuri dan melakukan macam-macam kejahatan. Bahasanya jorok kotor, memuakkan. Tingkah lakunya kasar dan berandalan. Sejak kecilnya mereka suka menyiksa dan menyakiti binatang; setelah dewasa ia suka menyiksa dan menyakiti teman-temannya dan orang luar.

Juvenile Delinquency

Juvenile Delinquency yang berasal dari dua kata, yakni “Juvenilis” yang berarti muda, bersifat kemudaan; dan “delinquere” yang berarti jahat, durjana, pelanggar 6 nakal. Juvenile Delinquency adalah anak-anak muda yang selalu melakukan kejahartan, dimotivir untuk mendapatkan perhatian, status sosial dan penghargaan dari lingkungannya. Mereka ini disebut pula sebagai pemuda-pemuda brandalan, atau pemuda aspalan yang selalu berkeliaran di jalan-jalan aspalan, atau anak-anak jahat nakal. Pada umumnya mereka tidak memiliki kesadaran sosial dan kesadaran moral. Tidak ada pembentukan Ego dan Super-ego, karena hidupnya didasarkan pada basis instinktif yang primitif. Mental dan kemauannya jadi lemah, hingga impuls-impuls, dorongan-dorongan dan emosinya tidak terkendali lagi.

Faktor- Faktor Penyebab Kenakalan Remaja (Juvenile Deliquency)

Sebab-sebab anak-anak muda menjadi delinquent ialah sebagai berikut:

1.      Delinkuensi karena instabilitas psikis

2.      Delinkuensi disebabkan defisiensi dari kontrol Super-ego

3.      Delinkuensi karena fungsi persepsi yang defektif.

Selain itu, terdapat pula berbagai faktor yang melatarbelakangi terjadinya kenakalan remaja. Berbagai faktor yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini penjelasannya secara ringkas:

1.      Faktor Internal

·         Krisis identitas

·         Kontrol diri yang lemah

2.      Faktor Eksternal

·         Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih saying

·         Minimnya pemahaman tentang keagamaan

·         Pengaruh dari lingkungan sekitar

·         Tempat Pendidikan

Bentuk- Bentuk Delinkuensi Anak dan Remaja

Menurut Kartono, bentuk-bentuk kenakalan anak dan remaja dibagi menjadi empat, yaitu:

a)      Kenakalan Remaja Terisolir (Delinkuensi Terisolir)

b)      Kenakalan Remaja Neurotik (Delinkuensi Neurotik)

c)      Kenakalan Remaja Psikotik (Delinkuensi Psikopatik)

d)      Kenakalan Remaja Defek Moral (Delinkuensi Defek Moral)

Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency)

·         Bagi diri remaja itu sendiri

·         Bagi Keluarga

·         Bagi lingkungan masyarakat

Upaya Penanggulangan Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency)

Dari berbagai faktor dan permasalahan yang terjadi di kalangan remaja masa kini sebagaimana telah disebutkan di atas, maka tentunya ada beberapa solusi yang tepat dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini. Kenakalan remaja dalam bentuk apapun mempunyai akibat yang negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja itu sendiri. Berikut ini terdapat upaya penanggulangan kenakalan remaja yang tediri dari:

·         Tindakan Preventif

·         Tindakan Represif

·         Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi

  

DEKOMPENSASI PSIKOTIK DAN PSIKOSA ORGANIK

Psikosa

Psikosa/psikosis adalah bentuk kekalutan mental yang ditandai adanya disintegrasi kepribadian (kepecahan kepribadian) dan terputusnya hubungan dirinya dengan realitas. Menurut Singgih D. Gunarsa (1998: 140) psikosa ialah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. Individu disebut psikotis apabila:

1        Reality-testingnya terganggu sama sekali, sehingga pikiran dan tanggapannya tidak sesuai dengan realitas, lalu dihinggapi halusinasi dan delusi.

2        Oleh disintegrasi kepribadiannya, orang mengalami kekalutan organis, kekalutan fungsional, dan kekalutan fungsi-fungsi kejiwaan.

3        Individu mereaksi (memasak dan mencernakan) tekanan-tekanan internal serta eksternal dengan cara yang keliru dan merugikan.

Reaksi individu terhadap tekanan internal dan eksternal selalu keliru dan merugikan. Mereka umumnya hidup dalam dunia yang tidak rill (dalam dunia fantasi, cita-cita atau dunia imaginer), sebab hubungan dirinya dengan dunia luar atau dunia realitas sudah putus. Penderita jadi tidak kompeten secara sosial. Individu mengalami maladjustment yang berat dan tidak mampu memikul tanggung jawab atas segala tingkah lakunya.

Seringkali ia menderita rasa takut yang hebat, dihinggapi depresi, delusi, halusinasi, regresi, stupor (tidak bisa merasakan sesuatu pun, keadaannya seperti terbius) dan tidak mempunyai insight sama sekali. Fenomena lainnya yang kerap timbul ialah: sering mengamuk disertai kekerasan atau serangan hebat yang maniakal kegila-gilaan, sehingga membahayakan dan mengancam keselamatan orang lain (yang bisa membunuh orang lain). Juga bisa berbahaya bagi diri sendiri, karena munculnya usaha untuk bunuh diri. Sehingga mereka perlu mendapatkan perawatan dalam Rumah Sakit Jiwa atau assylum. Psikosa dibagi dalam dua penggolongan yaitu:

·         Psikosa organik (organic psychosis)

·         Psikosa fungsional (functional psychosis)

Pengertian Psikosa Organik

Psikosa organik ialah psikosa disebabkan oleh faktor-faktor fisik dan internal (herediter, penyakit, gangguan organik dan kerusakan pada jaringan-jaringan otak) yang mengakibatkan penderita mengalami kekalutan mental, maladjustment dan inkompetensi sosial. 5 Psikosa organik disertai dengan kerusakan-kerusakan atau gangguan organik, khususnya pada otak (organic brain disorder). Gangguan fungsi otak dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

1        Penyakit badaniah: meningo-enchepalitis, gangguan pembuluh darah otak, tumor otak, tifus, endometritis, payah jantung, dan toximea.

2        Cidera kepala: cidera kepala sedang, cidera kepala berat. Kejadian ini mengakibatkan berkurang dan rusaknya fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, perasaan, kemauan dan motoric.

Beratnya gangguan jiwanya bergantung pada parahnya kerusakan-kerusakan organik pada otak tersebut. Rathus dan Nevid (1991) secara terperinci menyebutkan ciri-ciri dari gangguan mental organik seperti:

·         Fungsi intelektual atau ingatan menurun, mengalami kesulitan dalam berbicara, memahami, menghitung, dan kehilangan pengetahuan umum.

·         Kehilangan ingatan terhadap peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi dan bukan terhadap peristiwa-peristiwa yang sudah lama terjadi lebih merupakan ciri khas kerusakan organik

·         Adanya disorientasi dan gangguan motor (misalnya kesulitan berjalan atau gemetar yang tidak berada di bawah kendali kemauan)

·         Gangguan penilaian atau kesulitan dalam mengambil keputusan dengan tepat, seperti berpakaian secara tidak tepat atau meninggalkan rumah pada waktu hujan dan angin

·         Suasana hati yang tidak stabil dan agitasi emosional, misalnya peralihan yang terjadi dengan cepat dari tertawa ke menangis dan sebaliknya

·         Perubahan-perubahan kepribadian dalam kehidupan kemudian.

Proses Dekompensasi

Pada permulaan kemunculan psikosa, unsur kecemasan memegang peranan penting, bahkan mungkin terpenting; sehinggga pasien mengembangkan halusinasi-halusinasi dan delusi[1]delusi serta fantasi-fantasi yang menkutkan. Pasien akhirnya tidak bisa membedakan isi angan[1]angan sendiri dengan realitas nyata. Fungsi pengenalan, fungsi perasaan dan kemauannya, masing-masng beroperasi sendiri-sendiri, tidak terintegrasi. Tidak ada pengaturan terhadap fungsi-fungsipsikis yang menjadi otonom dan liar beroperasi seniri-sendiri itu. Terjadilah khaos dan disintegrasi kepribadiannya, dan inividu tidak bisa mengadakan regulasi. Muncullah kemudian banyak kecemasan dalam kondisi kepribadian yang kalut ini.ketidak mampuan mereagir dan menyalurkan kecemasan-kecemasan, dengan melemahnya reglasi kecemasan, itu mengakibatkan: kerusakaan dan gangguan pada sistem syaraf. Maka ketegangan[1]ketegangan psikis berubah menjadi peristiwa-peristiwa somatis atau jasmaniah.

Skema pendek terjadinya kecemasan dan dekompensasi psikis sebagai berikut:

1)      Oleh macam-macam situasi dan peristiwa yang berlangsung di lingkungan masyarakat, muncullah kemudian reaksi-reaksi pada yang disebut implus-implus hebat, yang tidak bisa dicemaskan atau dimasak dan diselesaikan dengan baik.

2)      Karena ketidakmampuan mencemaskan implus-implus tersebut timbul banyak kecemasan. Kecemasan-kecemasan tersebut sangat mengganggu dan mengurangi daya[1]pikul psikis.

3)      Jika beban kecemasan lebih besar, sedang daya-pikul psikis mengecil atau berkurang, maka terjadilah proses dekompensasi psikis. Pada anak-anak kecil, daya pikul psikisnya sangat kecil atau lembah. Dan pada fase-fase hidup tertentu, misalnya pada masa puber dan menopause, daya pikul psikis jadi melemah, sedang beban psikisnya menjadi makin berat dan semakin banyak.

Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Jiwa Psikotik

·         Faktor Organik atau Fisik (Jasmaniah)

·         Faktor Psikis dan Struktur Kepribadian

·         Faktor Keluarga

·         Faktor Sosio-Budaya

Pengelompokan Psikosa Organik

a.      Toxic Psychosis (Psikosa Oleh Sebab-sebab keracunan)

·         Alkoholisme

·         Psikosa Alkoholik (Alcoholic Psychosis)

·         Korsakow's Psychosis.

·         Drug Psychosis (psikosa akibat obat-obat bius).

·         Loodpsychosts (Lead-Psychosis, Plumbism, psikosa keracunan timah bitam).

b.      Psikosa Siphilitik (Syphilitic Psychosis) Psikosa Oleh Congenital Syphilis

Akibat dari syphilis ini ada beberapa simptom, yaitu: Dementia Paralytica atau General Paralysis, Juvenile Paresis, Cerebro Spinal Syphilitic Psychosis (cerebral syphilis), Tabes Dorsalis (Locomotor Ataxia),

c.       Senile Psychosis (Psikosa Senil)

Ada 3 golongan penyakit psikosa usia tua ini, ialah:

·         Senile Dementia (Psikosa Senil)

·         Presenile Psychosis

·         Psikosa Senil dengan Cerebral Arteriosclerosis (penyempitan/ pengerasan pembuluh-pembuluh otak

d.      Psikosa Traumatik (Traumatic Psychosis)

Pikosa traumatik disebabkan oleh luka (trauma) pada kepala, karena jatuh, dipukul, mendapat kecelakaan, atau luka ditembak. Kesadaran untuk sementara waktu, lalu orang menjadi sembuh kembali. Simptomnya waktu mendapat luka-luka, berupa shock otak sampai luka akut, yang kemudian bisa berkembang menjadi luka post-traumatic.

e.       Psikosa Karena Gangguan-gangguan Glanduler

Terjadi psikosa karena ada gangguan pada kelenjar-kelenjar glanduler:

·         Gangguan pada kelenjar Thyroid.

·         Gangguan pada kelenjar Adrenal (Addison's Disease)

·         Gangguan kelenjar Pituitary (kelenjar lendir di bawah otak atau kelenjar Hypophysa)

·         Gangguan pada kelenjar Gonadal

f.        Psikosa Karena Kekurangan Vitamin

Terjadi status psikosa karena badan menderita kekurangan gizi, vitamin dan bermacam[1]macam zat makanan lainnya. Kekurangan ini bisa menjadi dasar untuk tumbuhnya penyakit psikost.

g.      Psikosa Organik yang Tidak Diketahui Sebab-sebabnya

Penanganan Efektif Terhadap Pasien Gangguan Jiwa Psikotik

·         Psikoterapi

·         Melatih (coaching)

·         Konseling

·         Pemberian nasihat (advising)

·         Perlakuan (treatment).

 PSIKOSA FUNGSIONAL

Pada psikosa fungsional ini ada kekacauan mental (secara fungsional) yang nonorganis sifatnya, sehingga terjadi kepecahan atau keterbelahan pribadi. Desintegrasi kepribadian ini membuahkan maladjustment sosial yang berat, sehingga penderita terputus hubungannya dengan realitas hidup di luar. Dia menjadi tidak kompeten secara sosial. Kelompok psikosa fungsional ini adalah: (1) psikosa skizpfrenia, (2) psikosa manis-depresif, (3) psikosa paranoia. Sedangkan untuk psikosa skizofrenia dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu hebefrenik, katatonik, dan paranoid.


TEKNIK-TEKNIK DALAM MENDIAGNOSAI GANGGUAN JIWA

Diagnosa

Rumusan diagnosis yaitu Permasalahan berhubungan dengan Etiologi dan keduanya ada hubungan sebab akibat secara ilmiah.

Perilaku dan emosional dengan onset biasanya pada masa kanak dan remaja Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia pada awalnya disusun berdasarkan berbagai klasifikasi pada DSM , tetapi pada PPDGJ III ini disusun berdasarkan ICD X .

•Reaksi Berantai Dari Satu Penyakit

Dari satu gangguan psikis atau satu penyakit fisik dapat menyebabkan reaksi/dampak yang berantai dalam permasalahan yang dialami dengan wujud gangguan yang berada, apabila tidak segera ditangani atau pribadi yang bersangkutan mengalami degenerasi dan dementia. Trauma pada kepala dapat mengakibatkan beberapa gangguan, karena itu sifatnya multi-kausal.

Interviu

Dalam melakukan suatu diagnosa Jenis gangguan jiwa memerlukan adanya komunikasi/percakapan antara klien dengan konselor melalui teknik wawancara/Interviu. Dan berusaha menjelaskan pada klien bahwa perasaan dan keyakinan-keyakinan yang di anutnya keliru, tidak sesuai dengan realita yang ada. Dengan teknik interviu ini berusaha untuk melucuti kedok, memergoki, menangkap basah, dan memaksa klien agar mau membuka diri dan mau melepaskan suatu pendirian yang salah. Biasanya orang yang merasa disudutkan akan bersikukuh untuk mengumpat dengan alasan-alasan yang palsu, ia akan berusaha mempertahankan pendirian-pendiriannya yang tidak realistis.

Dengan sikap yang simpatik, sabar, tenang, menyenangkan, dan mau mengerti kesulitan klien akan mampu meringankan rasa bersalah klien serta membebaskan pasien dari rasa hampa dan bingung serta keputus asaan yang rasakan oleh klien. Psikoterapi berasal dari dua kata, yaitu «psyche» yang berarti «jiwa» dan «therapy» yang berarti «pengobatan». Sampai saat ini psikoterapi dianggap sebagai aspek murni psikiatri yang merupakan bagian integral dari praktek psikatri dan relevant digunakan pada gangguan psikiatrik, Psikoterapi digunakan untuk ,meningkatkan sikap fleksibilitas, kebebasan, kebahagian dalam hidup mereka. Ini tidak dapat mengubah problem pasien yang ada.

Psikoterapi adalah usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku.

Freud menerik kesimpulan bahwa kelompok sama dengan gerombolan dan pimpinan kelompok berfungsi sebagai pengganti «parental Figures». Terapi Kelompok Psikoanalitis dilakukan dengan cara, kelompok terdiri atas 6 atau 7 orang klien, persidangan berlangsung dua kali dalam seminggu selama kurang lebih 1¼ sampai dengan 1½ jam.

•Kelebihan dari terapi Kelompok Psikoanalitis antara lain

Mendapatkan umpan-balik yang lebih banyak dari teman sekelompoknya mengenai sikap, perasaan, pikirkan, kekeliruan, kelemahan, dan lain sebagainya. Dari banyak orang umumnya akan lebih memberikan pengaruh yang lebih meyakinkan dari pada kritik dari satu orang saja. Bersama-sama yang serat dimulai oleh emosi-emosi dari teman sekelompoknya akan menumbuhkan asosiasi- asosiasi yang lebih kaya pada setiap individu.

Teingkah-laku

Lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Belajar berlangsung dalam situasi alami namun juga dapat berlangsung dalam situasi yang dengan sengaja diciptakan. Dengan belajar memperhatikan macam-macam informasi, yang bisa dipakai sebagai alat pemahaman dan pemecahan masalah.

Kondisi belajar lainnya yaitu kondisionisasi instrumental atau yang di sebut juga sebagai operant learning Assertive training SyistematicdesensitizationImplosive therapy

C.Manfaat Teknik Diagnosa Gangguan Jiwa Adapun manfaat dari diagnosis antara lain, 1. Misalnya di Indonesia, pemerintah telah menetapkan PPDGJ III sebagai pegangan untuk diagnosis untuk gangguan kejiwaan bagi mereka yang bekerja dalam kalangan rumah sakit jiwa, sehingga untuk seorang pasien terdapat persamaan pandangan diantara pihak-pihak yang menanganinya. Bisa juga pasien dengan jenis gangguan tertentu dapat diteliti mengenaisisi kepribadian dan gejala-gejala psikologis lainnya. Selanjutnya, cara konstruk diagnosis didefinisikan dan dilukiskan, akan merangsang riset mengenai kriteria gangguan individual, perangkat criteria alternative, dan komorbiditasdiantara gangguan-ganggua itu.

Keempat, setidaknya menurut teori, untuk gangguan tertentu dapat dipilih terapi mana yang kiranya dapat lebih efektif digunakan


REHABILITASI ISLAM

Rehabilitasi adalah restorasi Proses rehabilitasi yang dilakukan oleh petugas rehabilitasi berupa bantuan, dengan pengertian setiap usaha rehabilitasi harus selalu berorientasi pada pemberian kesempatan kepada pasien yang dibantu untuk mencoba melakukan dan memecahkan sendiri masalah-masalah yang disandangnya .

Rehabilitasi pendidikan adalah layanan yang diberikan kepada individu yang membutuhkan layanan khusus dalam bidang pendidikan Rehabilitasi dalam Keluarga

Rehabilitasi dalam keluarga merupakan model layanan rehabilitasi yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya yang mengalami gangguan. Orang tua terlebih dahulu diberikan latihan bagaimana cara memberikan layanan kepada anaknya atau keluarga yang membutuhkan layanan khusus.

Medis

Jika yang disebut dengan pengobatan medis secara umum adalah pengobatan yang dilakukan oleh dokter di rumah sakit, puskesmas atau klinik, dengan menggunakan obat-obatan produksi pabrik atau alat-alat yang menggunakan teknologi canggih, atau secara lebih singkat lagi Amin Syukur mendefinisikannya sebagai segala sistem pengobatan yang menggunakan alat dan bahan secara bendawi, baik itu dokter, orang sakti, dukun atau sebutan- sebutan lainnya.

Non-Medis

Rehabilitasi non-medis merupakan pendamping dari rehabilitasi medis. Rehabilitasi non-medis adalah proses pemulihan dengan tidak menggunakan alat dan bahan secara bendawi, baik itu dilakukan oleh dokter, orang sakti, dukun, tabib atau sebutan lain yang sepadan dengan itu.

Rehabilitasi Islam

Yang dimaksud dengan rehabilitasi islam adalah terapi yang dilakukan dengan upaya-upaya untuk mendekatkan diri terhadap sang pencipta yang mana dengan melakukan ritual-ritual dalam keagamaan, seperti beribadah, berdoa, berdzikir, dan juga mengaji, yang mana keagamaan tersebut merupakan pedoman bagi umat islam.
Rehabilitasi islam juga dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan untuk membantu penyembuhan atau perawatan terhadap klien dengan melalui aspek emosional dan juga sepiritual dari diri setiap individu yang mana dilakukan dengan cara islami dan juga tidak bertentangan dengan ajaran islam.
Dalam pelaksanan rehabilitasi islam memiliki peran yang sama dengan rehabilitasi pada umumnya, yang mana untuk membantu seseorang untuk pulih dan mampu untuk membetulkan hasil-hasil dari masalah-masalah emosional dan mengembalikan kemampuan yang hilang.

Komentar