RESUME PSIKOPATOLOGI DAN REHABILITASI ISLAM
PEMAHAMAN MENGENAI MANUSIA DAN
KEHIDUPAN PSIKIS
Bagi banyak orang, pekerjaan instrospeksi
atau mawas diri itu merupakan usaha yang sulit sekali. Sedangkan bagi para
ahli ilmu jiwa, bereksplorasi dan mengintip di wilayah "kehidupan
batiniah”itu sendiri merupakan aktivitas yang mengasyikkan. Pada setiap
perenungan mengenai fungsi-fungsi psikis itu selalu terdapat subjek yang
aktif, yaitu seorang “Aku”yang mengalami, dan ada suatu objek yang
menjadi objek. Maka relasi antara Aku atau subjek yang mengalami, dengan
objek itu disebut mengandung intensionalitas yaitu pengarahan atau penujuan
dari subjek kepada satu objek.
Pada pengalaman mendapat suatu firasat, ada
kesadaran yang samar-samar sifatnya. Sedangkan pada peristiwa
kedua, pengenalan berlangsung samar-samar dan bisa dikatakan “jauh”dari
realitas yang nyata. Motivasi ini adalah alasan atau gambaran dasar yang
menggerakkan diri kita untuk landasan sesuatu. Mungkin hal itu disebabkan
oleh kondisi jiwanya yang tidak “pas”. Karena semenjak kematian suaminya dia
mendapatkan warisan rumah besar dan mewah dengan kekayaan yang
berlimpah. Sekarang janda muda itu menampilkan kesan yang
ganjil. Sebab, emosi-emosi kedukaan oleh kematian suaminya dan
emosi-emosi keriangan yang ditimbulkan oleh harta kekayaan yang baru
diterimanya, menjadikan jiwanya kacau. ”Saya tahu, bahwa
menyuntikkan morfin pada diri sendiri dapat membahayakan hidup
saya”, demikian kata seorang morfinis, ”namun setiap harinya saya
harus menyuntiki diri sendiri agar bisa hidup kembali”.
Pada peristiwa ini pikiran-pikiran yang sehat
selalu bertentangan dengan keinginan-keinginan untuk menyuntiki dirinya dengan
morfin. Mencegah konflik-konflik psikis yang serius dan tidak
disadari, bisa sangat mengacaukan regulasi dan Integrasi fungsi- fungsi fisik. Contoh
penyakit lambung banyak yang ditimbulkan oleh konflik-konflik batin.
SAKIT DAN PENYAKIT GANGUAN FUNGSI PSIKIS
Prinsip Kesehatan Mental
Prinsip ini menegaskan bahwa yang dikatakan sehat
mentalnya tidak cukup kalau dikatakan sebagai orang yang tidak megalami
abnormalitas atauorang yang normal. Kesehatan mental adalah konsep yang
ideal. Prinsip ini menegaskan bahwa kesehatan mental menjadi tujuan yang
amat tinggi bagi seseorang.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Kesehatan Mental
Yang termasuk faktor internal adalah faktor
biologis dan psikologis. Stratifikasi Sosial Holingshead dan Redlich
menemukan bahwa terdapat distribusi gangguan mental secara berbeda antara
kelompok masyarakat yang berada pada strata sosial tinggi dan rendah. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan mikrosistem yang menentukan kepribadian dan
kesehatan mental anak. Sekolah Sekolah juga merupakan lingkungan yang
turut mempengaruhi terhadap perkembangan kesehatan mental anak .Individu
yang otonom dan mandiri dapat bekerja secara interdependen atau kooperatif
dengan orang lain tanpa kehilangan otonominya.
Selain
itu juga orang sakit ini ada yang membagi dalam tiga kelompok, yaitu
Orang
yang sungguh-sungguh sakit, dan mereka sangat terganggu karena penyakit dan
beban yang mereka alami atau derita. Orang yang merasa dirinya sakit dan tidak
yakin bahwa dirinya sebenarnya tidak apa-apa atau terganggu. Orang yang jelas
sakit tetapi dirinya tidak merasakan bahwa dianya sakit. Rasa sakit proses
mekanistik.Teknik-teknik untuk mengontrol rasa sakit dapat mencakup penggunaan
obatobatan, operasi, Kontrol sensoris-counterirritation, biofeedback, teknik
relaksasi, hipnotis, akupuntur, ditraksi, teknik coping, guided imagery, serta
teknik kognitif perilaku.
PENYEBAB GANGGUAN PSIKIS : FAKTOR MULTI-KAUSAL
Diagnostik multikausal merupakan gabungan dari
beberapa faktor gangguan atau penyakit yang beroperasi secara
bersamaan. Dengan demikian pengoperasian faktor tersebut dapat
mengakibatkan gangguan kejiwaan atau psikis yang multikausal. Faktor
organik atau fisik seperti penyakit, terutama penyakit yang tidak mudah
atau tidak bisa disembuhkan, dimana penyakit menyebabkan kerusakan pada
sistem syaraf otak sehingga menimbulkan gangguan-gangguan anomalia/abnormalitas
tingkah laku serta menurunnya kesadaran. Orang yang mengkonsumsi alkohol
akan merasakan kebebasan.
Orang-orang
yang sudah terbiasa mengkonsumsi alkohol akan kesulitan untuk menghentikannya,
bahkan akan menambah dosis setiap kalinya untuk mendapatkan efek
“kesenangan”lebih lama dalam dirinya. Pada fisik akan merasakan gemetar terus
menerus pada sekujur tubuh yang kemudian mengakibatkan insomnia serta keracunan
alkohol yang dapat merusak sistem syaraf otak. Pasien akan merasakan
kebingungan karena mudah lupa lalu terjadi disorientasi pada lingkungan serta
mengalami polyneuritis dan kerusakan pada sistem syaraf yang mengakibatkan
kelumpuhan pada otot-otot. Selain itu dapat terjadi nystagmus, yaitu ayunan
yang cepat bola mata yang tidak terkendali pada penderita.
Orang alkoholik cenderung kesulitan memiliki
nafsu makan, hal ini dikarenakan alkohol yang sifatnya “berkalori
tinggi”sehingga mengurangi selera makan. Gangguan-gangguan psikis dalam
wujud neurosis, psikosis, dan psikopat merupakan keadaan yang
cenderung patologis dari tempramen tempramen. Pada tipe kepribadian amorf
dan apatis, gejala-gejala gangguanp psikis yang khas hampir tidak pernah
muncul. Misalnya pada tipe nerveus dan sentimentil, banyak kita
jumpai varian dengan warna-perasaan yang buram dan negatif
depresif, karena individu sifatnya sangat emosional, namun tidak
aktif.
Pada tipe sanguinikus dan
kholerikus, biasanya terdapat warna-perasaan yang
positif. Selanjutnya ekstremitas dari temperamennya bisa menyebabkan
gangguan-gangguan psikis yang mendorong individu menjadi
kriminal. Misalnya kelompok yang bersifat primer dan impulsif
sekali, dengan mekanisme reaksi yang sangat cepat dan amat peka terhadap
penghinaan-penghinaan, biasanya meledak-ledak eksplosif mereaksi terhadap
hal-hal kecil. Ke dua faktor ini membuat mereka tidak pernah berani
mengatasi segala ke sukaran dalam hidupnya, dan tidak sanggup mencari
jalan keluar yang wajar.
Tipe-tipe nerveus yang sering bertingkah-laku histeria
dan selalu gelisah dikejar-kejar oleh macam-macam dorongan
paksaan , biasanya menjadi pemburab pembunuh dengan medium
racun, menjadi bandit-bait kejam, dan pembunuh-pembunuh yang tidak
mempunyai belas kasihan pada sesama hidup. Keluarga dengan ayah-bundayang
tidak mampu berfungsi sebagai pendidik, yang defisien sebagai pendidik
gangguan-gangguan psikis pada diri anak itu erat kaitannya dengan
kesulitan-kesulitan yang dialami oleh orang tua, sehingga anak tidak bisa
menjadi dewasa secara psikis, dan tidak bisa mandiri dalam kedewasa
anaknya. Orang tua tidak mampu menyalurkan impuls-impuls anak melalui
kanal-penyalur yang wajar, sesuai dengan norma-norma
susila. Anak-anak itu pada umumnya ditolak oleh orang tuanya, dan
diper lakukan secara kejam via agresivitas orang tuanya, namun sekaligus
mereka dibuat sangat bergantung dengan dependensinya yang besar kepada orang
tuanya.
Di
dalam lingkungan keluarga yang memprodusir anak-anak psikotis, anak-anak itu
tidak pernah merasa aman dan pasti. Sikap-sikap bermusuhan dan agresivitas yang
destruktif, baik yang langsung ditujukan kepada anak, maupun yang tidak dengan
sengaja dialami oleh anak. Juga membangun ide-ide yang kontroversial
berlawanan, sektaris, mengembangkan delusi-delusi kebesaran , sikap-sikap yang munafik
orang tua, semua itu menghambat anak untuk tumbuh, bersikap wajar serta waras.
Dependensi dan identifikasi secara total kepada salah-satu atau kedua orang
tuanya, yang kemudian berbenturan dengan keinginan anak untuk menjadi mandiri
zelfstandig, dan melawan berkemauan sendiri.
Diusahakan
adanya proses identifikasi anak terhadap orang tua yang sehat sifatnya. Maka
relasi anak dengan orang tua serta lingkungan sosial yang lebih luas itu sangat
bergantung pada identifikasi yang sehat tadi. Orang tua harus selalu membimbing
dan mendorong agar anak anaknya mampu menentukan sikap, membuat rencana hidup
serta memilih arah dan tujuan finalnya Dengan keberanian serta tanggung jawab
sendiri anak didorong untuk meraih tujuan-tujuan hidup yang diinginkan. Semua ini
merupakan contoh yang utama bagi anak.
Keluarga
yang memberikan pengaruh-pengaruh buruk dan membuat orang lain “menjadi
gila”itu jelas tidak melatih anak untuk belajar melakukan adaptasi. Juga
semakin banyak yang menjadi neurotis dan psikotis. Oleh kecemasan-kecemasan dan
panik, mereka mengalami dekompensasi, derialisasi dan depersonalisasi, yang
bisa berkembang menjadi gejala neurosa atau psikose. Muncul pula banyak gejala
autism dan egosentrisitas yang ekstrim, sehingga orang tidak bisa bersentuh sama
sekali oleh kehadiran orang lain atau oleh masalahnya orang lain.
GANGGUAN KESADARAN
Memahami pengertian dari kesadaran dan
ketidaksadaran Zeman menguraikan bahwa kata consciousness berasal dari bahasa
Latin conscio yang dibentuk dari kata cum yang berarti with dan scio yang
berarti know . Seperti halnya seseorang yang sedang berinteraksi antara
dua orang atau lebih, selama berinteraksi mereka memberikan informasi satu
sama lain.
Archetype
Arcbetypen juga merupakan stuktur gepraeformeed
yang timbul dari pengalaman manusia sejak zaman purba. Bayang-bayang
merupakan bagian dari totalitas kepribadian manusia yaitu “belahan gelap”dan
inferioritas yang disadari. Bayang-bayang terdiri atas fungsi yang tidak
atau belum jelas dan inferior yang kemudian didesakkan kedalam
ketidaksadaran, karena alas an moral dan intelektual. Karena itu
bayang-bayang dianggap “tidak sesuai”dengan prinsip yang dianut oleh kesadaran.
Proyeksi yang demikian berlangsung dengan
ketidaksadaran dan diluar kemauan sendiri. Bayang-bayang yang diharapkan
ada pada pihak pria oleh si wanita disebut sebagai animus, dan
bayang-bayang yang diharapkan ada pada pihak wanita oleh pria disebut sebagai
anima. Pada keadaan menurunnya kesadaran tingkat serius, tidak dimugkinkan
proses berfikir yang terarah. Apabila keadaan kesadaran kita berlangsung normal, maka daya
tanggapan indera-indera kita benar-benar dalam kondisi yang
jernih. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai juga jelas. Sedang
impuls-impuls yang meletup-letup keluar secara spontan, bisa direm dan
bisa dikendalikan. Di tengah jalan ia membeli sebilah golok, yang
disembunyikan di balik sarungnya.
Namun dia tidak bisa menjawab, mengapa dia
dalam keadaan begitu dan berbuat sesadis itu. Dia lalu memasuki suatu
kedai yang ditunggui oleh beberapa janda cantik. Di tempat ini ia sengaja
membuat ricuh, menantang siapa pun juga, dan tidak bisa berpikir
waras lagi. Lalu membunuh beberapa laki-laki yang kebetulan lewat di depan
kedai tadi.
Setelah-kejadian itu berlangsung, pemuda
yang bersangkutan sama sekali tidak mampu mengingat semua tingkah-laku amuknya
itu.
GANGGUAN KESADARAN DIRI DALAM WUJUD DEREALISASI
DAN DEPERSONALISASI
Derealiasi dan Depersonalisasi
Gangguan kesadaran berupa tidak mengenal kembali
lingkungan sekitar dengan benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya
sudah dimaklumi setiap saat itu disebut proses pemutaran, penggeseran dan
pemalusan lingkungan sekitar, juga disebut derealisasi. Dalam hal ini
derealisasi diartikan sebagai tanggapan sangat keliru mengenai dunia sekitar
atau realitas yang ada, yang diputarbalikan, dipalsukan, atau
bergeser dari realitas sebenarnya. Derealisasi dan depersonalisasi itu
biasanya disebabkan oleh kondisi kelelahan yang sangat hebat, atau orang
baru dari rasa sakit yang berat. Mereka mengalami pengalaman sensori yang
tidak biasa contohnya ukuran tangan dan kaki mereka tampak berubah secara drastis
atau suara mereka terdengar asing bagi mereka sendiri.
Kadangkala mereka merasa seperti
mesin, seolah-olah mereka dan orang-orang lain adalah robot atau mereka
seolah bergerak di dunia yang tidak nyata. Kesadaran sebagai subjek yang
aktif. Subjek secara aktif berbuat dan melakukan semua penginderaan dengan
spontan dan dengan sendirinya secara otomatis, karena terbiasa setiap
harinya, ada kesadaran diri yang spontan. Ada kesadaran mengenai
perbedaan dan persamaan antara diriku setahun yang lalu, sekarang dengan
diriku setahun lagi.
Pada orang yang mengalami
depersonalisasi, perasaan luluh-menyatu dengan waktu secara
berkesinambungan itu sudah tidak ada. Orang tersebut tidak bisa membedakan
antara dahulu kala, kemarin, sekarang dan besok. Kesadaran
sebagai “bhinneka tunggal ika”, yaitu kesadaran bahwa tubuh dan jiwanya
terdiri atas unsur-unsur dan bagian-bagian yang terintegrasi menjadi satu
kesatuan utuh. Kesadaran sebagai individu dan makhluk sosial yang harus
berkomunikasi dengan dunia luar. Sejak lahir, manusia sudah menampilkan
ciri-ciri yang karakteristik, juga memiliki sifat-sifat yang
individual. Maka oleh perbedaan-perbedaan individual setiap orang
merupakan pribadi yang khas dan unik, tunggal, tidak sama dengan
individu lain, tidak ada duanya. Dengan kata lain, individu yang
sehat rohaninya itu menyadari kedudukan dirinya sebagai “subjek”yang menghayati
lingkungan sosialnya sebagai “objek”. Contohnya seorang anak yang berdiri
sendiri, terpisah secara total dari masyarakat dan pengaruh kultural orang
dewasa, tidak mungkin dapat berkembang menjadi manusia normal karena tanpa
adanya bantuan orangtua, anak akan mati.
Manusia tidak mungkin mencapai taraf kemanusiaan
yang normal tanpa bantuan manusia lain. Oleh sebab itu, kemanusiaan
bukan milik perorangan, akan tetapi merupakan satu taraf yang berproses
dalam lingkungan manusia. Keluarga dan lingkungan social sangat penting
untuk dihayati sebagai bagian dari diri sendiri karena manusia
dilahirkan, dirawat dan dididik oleh manusia lainnya seperti keluarga dan
orang-orang disekitarnya, karena itulah mengapa manusia dikatakan sebagai
makhluk sosial yang harus hidup membudaya di tengah masyarakat. Baik
pribadi individu, maupun ciri sosialnya , dan lingkungan
sosial, ketiganya sama pentingnya dan tidak bisa dipisah-pisahkan satu
sama lain.
Perkembangan yang sehat akan
berlangsung, jika kombinasi dari potensialisasi individual yang
kodrati, sosialitas dan lingkungan sosial itu berjalan dengan harmonis dan
imbang keadaannya. Inilah yang disebut sebagi konvergensi dari
faktor-faktor endogen dan faktor eksogen , keduanya harus bisa
bekerjasama. Seorang yang sehat secara psikis akan menyadari adanya batas
dirinya dengan dunia sekitar. Akan tetapi pada saat yang sama juga
menyadari bahwa dirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
lingkungannya dan harus terus-menerus berkomunikasi dengan dunia luar agar
individu tersebut dapat menjadi manusia yang dikatakan normal.
Dalam hal ini, individu yang bersangkutan
merasa jauh dari lingkungannya, merasa asing, merasa tidak mengerti
dan tidak dimengerti oleh lingkungannya. Pasien tidak mengerti apa yang
sedang terjadi pada dirinya sendiri dan di luar dirinya. Muncullah
kemudian perasaan “hilang hanyut”, tenggelam tidak berdaya kemudian
identitas diri menghilang. Jika kualitas pengalaman sendiri yang
diungkapkan secara spontan itu tidak sesua dengan realita, maka individu
yang bersangkutan mengalami delusi atau waham.
Misalnya seseorang yang menyatakan dirinya
sebagai Nabi penebus atau Waliullah. Peralihan derealisasi-depersonalisasi
menjadi delusi itu akan jelas tampak, apabila ciri “merasa seperti”itu
benar-benar sudah lenyap dan individu yang bersangkutan menganggap atau
mengatakan dirinya betul-betul menjadi seperti itu. Pada peristiwa
derealisasi dan depersonalisasi itu ada sesuatu yang hilang yaitu perasaan
sudah mengenal, kesadaran diri dan kaitan dirinya dengan
lingkungannya. Sehingga muncullah perubahan-perubahan pada tingkah laku
dalam wujud perilaku yang aneh-aneh, tidak wajar, tidak pas dengan
situasi, eksentrik dan kegila-gilaan.
Ini merupakan pengalaman penuh kebahagiaan yang
tidak bisa diukur besarnya. Contohnya adalah jika seseorang mengadakan
kontak seksual yang sangat intens dengan seorang partner yang teramat
dicintai, maka dalam pengalaman bersatunya tubuh disertai dengan
orgasme, maka itu bisa berlangsung pengalaman depersonalisasi dengan tanda
plus atau positif. Banyak orang yang menganggap pengalaman tersebut
sebagai pengalaman puncak, seperti pada pengalaman-pengalaman religius dan
rasa bertaubat dari segenap dosa, serta upaya meluluhkan diri dengan Tuhan
Yang Maha Kuasa. Pengalaman tersebut memberikan arti atau makna yang
sangat mendalam dan membekas.
Juga bisa berlangsung pada proses kesembuhan pada
penderita neurosa yang mengalami depresi, ketika mereka itu mendapatkan
wawasan atau insight bahwa segala perilaku mereka di masa lampau itu adalah
salah dan menyimpang dari norma wajar, maka seseorang perlu bertaubat
serta membetulkan kesalahan tingkah laku tadi.
Masalah
Kesadaran dan Kecanduan Ganja Serta Bahan Narkotika
Jenis narkotika ini mempengaruhi syaraf dan jiwa
bagi penderita dengan cepat dan keras. Pada kategori ini, memiliki
waktu ketagihan yang relative pendek. Tetapi jika si pemakai tidak
mendapatkan narkotik tersebut, maka ia dapat mati karenanya. Jenis
narkotik ini dapat mempengaruhi jiwa dan syaraf penderita tidak terlalu
keras, karena merupakan jenis narkotika yang alami.
Pada kategori ini, memiliki waktu ketagihan
yang agak panjang. Hard drugs dan soft drugs, keduanya menimbulkan
efek memabukkan dan membius sehingga membuat pemakainya menjadi membuai dalam
khayalan halusinasi. Inilah merupakan dari perasaan “high”atau “fly”atau
“syur”yang berlangsung beberapa menit. Tetapi pengalaman tersebut sama
sekali tidak memberikan makna bagi kehidupan pribadi. Bahkan dampaknya sama
sekali tidak membangun watak dan kepribadian, tetapi justru merusak jiwa
dan raga pemakainya. Sistem syaraf lemah atau rusak total, timbul
kerusakan lainnya pada hati dan jantung. Bahkan kondisi tubuh jadi rusak
karena macam-macam penyakit fisik yang lainnya. Menjadi mudah
tersinggung, mudah marah, sangat eksplosif, hati nurani melemah.
Semua tingkah lakunya hampir tidak terkendalikan oleh kesadarannya. Bila
pecandu sudah tidak memiliki uang, tetapi badan dan jiwa terus ketagihan
oleh drugs, maka para pecandu tersebut akan melakukan macam-macam tindakan
kriminal. Semua itu menjadi masalah social yang mengganggu ketentraman
masyarakat dan tidak mudah untuk diberantas.
GANGGUAN FUNGSI PENGENALAN
Pengenalan
Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah
atau pengalaman persepsi sensori yang tidak terjadi dalam
realitas . Proses terjadinya halusinasi diawali dengan seseorang yang
mengalami halusinasi dan menganggap sumber dari halusinasinya berasal dari
lingkungan stimulus eksternal. Pada fase awal masalah itu menimbulkan
peningkatan kecemasan yang terus menerus dan system pendukung yang kurang akan
membuat persepsi untuk membedakan yang dipikirkan dengan perasaan
sendiri, pasien sulit tidur sehingga terbiasa menghayal dan pasien bisa
menganggap lamunan itu sebagai pemecahan masalah. Meningkatnya pula fase
comforting, klien mengalami emosi yang berlanjut seperti
cemas,kesepian, perasaan berdosa dan sensorinya dapat diatur.
Halusinasinya akan muncul kembali jika pasien
tidak mampu mengontrol halusinasinya dan berupa menjaga jarak dengan obyek yang
dipresepsikan. Faktor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh
individu sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan
yang memerlukan energi ekstra untuk menghadapinya. Adanya rangsangan dari
lingkungan, seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama
tidak diajak berkomunikasi, objek yang ada dilingkungan, dan juga
suasana sepi atau terisolasi sering menjadi pencetus terjadinya halusinasi.
Lebih
sering terjaadi pada keadaan delirium Halusinasi penciuman Halusinasi
pengecapan Halusinasi perabaan Halusinasi kinistetik
Kebanyakan halusinasi muncul akibat banyaknya
waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik oleh klien. Untuk itu, klien
perlu dilatih menyusun rencana kegiatan dari pagi sejak bangun pagi sampai
malam menjelang tidur dengan kegiatan yang bermanfaat.
Pseudo-halusinasiadalah
peristiwa yang dihayati sebagai tanggapan, dan bukan sebagai “sepertinya
satu pengamatan”Genetik
Kendler mencatat adanya prevalensi keluarga
pasien dengan gangguan delusional lebih rendah mengalami skizofrenia
dibandingkan keluarga dengan skizofrenia itu sendiri . Individu
dengan gangguan delusi cenderung berjenis kelamin perempuan daripada laki-laki. Seringkali
ditemui pada orang yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Saat
mendapat diagnose, laki-laki cenderung mengalami delusi terlebih dahulu
dibanding perempuan yang justru mendapat diagnosis ketika memasuki usia tua.
Delusi jenis ini sering disebut sebagai delusi
megalomania Orang dengan delusi jenis ini akan berkhayal memiliki status sosial
yang tinggi, menjadi tokoh terkenal, dan merasa memiliki kekuasaan
yang besar.
Delusi
jenis ini menggambarkan bahwa penyintas merasa amat dicintai oleh orang lain
Delusi Grandios
Jenis delusi ini berkaitan erat dengan
permasalahan kesetiaan pasangan, maka dari itu jenis delusi ini kerap kali
disebut sebagai paranoia conjugal atau sindrom Othello. Namun
prevalensinya sangat rendah, yakni hanya sebesar 0,2% dari semua pasien
psikiatrik. Gejalanya sering muncul tiba-tiba dan menghiang begitu saja
setelah berpisah dengan pasangan. Jenis delusi ini membuat penyintas
merasa ada yang salah dalam tubuhnya. Kebanyakan pengobatan psikoterapi pada pasien
dengan gangguan delusi perlu dibersamai dengan pengobatan farmakologi untuk
mendapat hasil yang maksimal. Pada proses psikoterapi, terapis akan
menghindari konfrontasi panas dengan pasien tentang isi delusi
mereka, tapi merefleksikan kenyataan kepada pasien di waktu yang
tepat. Ketika menghadapi kasus pasien keras kepala, dokter yang
menangani kasus bisa membantu mengarahkan pasien ke kehidupan yang lebih
bahagia dan membiarkan mereka hidup secara damai dengan delusi
mereka. Secara bersamaan, dokter akan mengajarkan pasien tentang
bagaimana menangani krisis dengan cara positif ketika mereka menghadapi tekanan
tiba-tiba.
GANGGUAN PADA FUNGSI BERFIKIR
Berpikir
Deduktif
Berbeda dengan berpikir induktif, maka
berpikir deduktif prosesnya berlangsungu dari yang umum menuju yang
khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori
ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggap benar dan sudah bersifat
umum. Begitulah cara penerapannya kepada fenomenanfenomena
khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena
tersebut. Semua anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif akan mudah
terserang penyakit .
Iwan adalah anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif . Menurut
DSM-IV demensia adalah suatu penurunan kemampuan intelektual yang dapat
menyebabkan perubahan perilaku, gangguan pada kehidupan sosial, serta
gangguan pada aktivitas sehari-hari. Pikun merupakan gejala yang terjadi
pada orang lanjut usia, biasanya pikun berkembang secara perlahan dimulai
dengan stres ringan, kecemasan berlebihan atau gejala
kebingungan. Lama-kelamaan akan menunjukkan gejala yang lebih parah
sehingga kemampuan intelektualnya juga menurun.
Menurut Kusumoputro menjelaskan demensia adalah
gejala di mana seseorang mengalami kehilangan kemampuan kognisi yang sedemikian
berat sehingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan. Beberapa aktivitas
yang tidak bisa dilakukan penderita demensia adalah seperti melakukan
hobi, mengatur keuangan, bepergian
sendirian, memasak, menggunakan telepon, makan dan berbagai
aktivitas sehari-hari lainnya. Menurut WHO pada tahun 2010 menjelaskan
bahwa skizofrenia merupakan gangguan mental berat yang ditandai dengan adanya
gangguan dalam pikiran, bahasa, persepsi, dan esadran
diri. Persepsi-persepsi yang muncul dari pikiran negatif penderita akan
memicu tumbuhnya tekanan mental sehingga dapat beresiko mengalami
kecemasan, gangguan emosi, stres, depresi bahkan sampai bunuh
diri.
Seperti penelitian yang dilakukan oleh Golberg
& Gold pada 2010 tentang fungsi neurokognitif pada skizofrenia bahwa fungsi
kognitif menurun secara signifikan selama durasi skizofrenia. Didalam
Islam berfikir merupakan keunggulan yang dimiliki oleh manusia, yaitu
makhluk yang diciptakan Allah dengan sempurna. ” dan Sesungguhnya
kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan
Tuhannya.”Penjelasan ayat diatas jelas dalam Islam menganjurkan bagi umatnya
untuk menggunakan keunggulan berfikir yang diberikan Allah SWT. Agar
digunakan untuk hal yang bermanfaat bagi dirinya, dan juga imannya kepada
Allah SWT. Umumnya gangguan berfikir menyerang banyak pada individu yang sudah
lanjut usia. Seorang yang sudah lanjut usia sering mengalami pikun atau
demensia. Dalam ajaran Islam demensia atau pikun diartikan sebagai titik
kelemahan yang dialami seseorang. An-Nahl ayat 70 yang artinya “Allah
menciptakan kalian, kemudian mewafatkan kalian. Dan di antara kalian ada
yang dikembalikan pada umur yang paling lemah , agar dia tidak mengetahui
lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. ”Telah memberikan sebagian
orang dengan umur yang panjang pada usia lanjut. Sedangkan penjelasan dari
arti agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah
diketahuinya, hal tersebut agar manusia kembali pada masa kecilnya yang
lemah akan pengetahuan, lemah akan ingatan. Selain itu, ayat
tersebut juga dapat diartikan agar manusia dapat melupakan hal-hal yang terjadi
pada dirinya, seperti kematian orang yang dicintai, kejadian seperti
itu akan membuat seseorang lemah berkelanjutan jika tidak diberikannya Allah
penderita lupa. Jelas adanya Allah Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui
hamba-Nya, semua yang llah berikan kepada hambanya tidak ada yang
sia-sia, semua terdapat manfaat-manfaatnya masing-masing, yang
seringkali belum kita ketahui.
GANGGUAN PADA FUNGSI INTELEGENSI DAN
DEMENTIA
Inteligensi atau intelek adalah kemampuan untuk
meletakkan hubungan-hubungan dari proses-proses berpikir. Inteligensi adalah keterampilan untuk memecahkan masalah, juga
merupakan untuk belajar dari pengalman-pengalaman. Inteligensi merupakan kemampuan yang diberikan kepada
seseorang yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia, keberhasilan dan
kesuksesan. Inteligence berasal dari bahasa latin intelectus dan
intellegentina yang berarti kekuatan yang melengkapi akal pikiran manusia
dengan gagasaan abstrak yang unuversal. Sejak kelahirannya anak manusia
membawa potensi-potensi fisik dan psikis yang bisa dikembangkan. Apa yang
dilihat, di dengar oleh anak dari sekitarnya, apa yang dialami anak
sejak kecil dan apa yang di harapkan oleh orang dewasa dari anak untuk
dilakukan itu sangat mempengaruhi intelegensinya.
Sebagai contoh larangan-larangan orang tua
terhadap anak untuk mengetahui masalah masalah seks dan urusan-urusan orang
dewasa akan melupuhkan daya pikir dan inteligensi anak juga melumpuhkan
kebodohan artifisial atau buatan pada anak. Juga perintah yang otoriter
dengan segala macam bentuk paksaan dan indoktrinasi, yang memompakan
"kebenarankebenaran" sendiri sebagai kriteria panutan yang dipaksakan
kepada rakyatnya, akan mempertebal kebodohan buatan
rakyat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, ditengah masyarakat
dunia kita ini banyak terdapat sistem pembasuhan, pencucician otak yang
efektif sekali, dengan mana tidak hanya wawasan jernih rakyat dicuci atau
di hapus dicuci bersih akan tetapi juga di tanamkan
doktrindoktrin, fiksi-fiksi dan prasangka-prasangka yang keliru, yang
melumpuhkan kemampuan berpikir sehat atau inteligensi normal. Prajurit-prajurit
yang disalahgunakan untuk tujuan peperangan imperialistis dan agresif dan tidak
boleh ikut bermain politik dan harus selalu tunduk adalah contoh yang jelas
dari pengkondisian pikiran dan inteligensi rakyat pada zaman modern sekarang.
Maka, berkat kebodohan artifisial yang
diperolehnya, prajurit-prajurit tadi membiarkan dirinya tanpa perlawanan
dibawa ke arena pembantaian di medan perang atau membunuh diri sendiri menjadi
pembunuh-pembunuh potensial. Ada bentuk gangguan-gangguan dan kerusakan
atau defek bawaan pada inteligensi, yang mempengaruhi pula fungsi
berpikir, yang disebut amentia. Pada idiocy ini cacad jasmaniah dan
rohaniahnya amat berat. Pada umumnya dia tidak mampu menjaga diri dan
melindungi diri sendiri terhadap bahaya-bahaya dari luar.
Yang dikeluarkan ialah suara semacam
bunyi-bunyian binatang, dengkusan, teriakan-teriakan, lengkingan
dan ringkikan. Pada idiocy komplit atau absolut, penderita tidak
mempunyai kemampuan jiwa, dan mengalami degenerasi secara total. Pada
diri mereka ada defektivitas dalam kapasitas edukasinya. Mereka sangat
bergantung pada perlindungan dan pertolongan keluarga dan orang
tua, karena tidak mampu mendapatkan mata pencaharian sendiri. Derajatnya
ada yang rendah, medium dan tinggi. Mereka tidak mempunyai kemampuan
untuk mengontrol diri, kemampuan koordinasi dan adaptasi yang wajar.mereka
bisa diajari dengan menguasai beberapa keterampilan tangan dan mengurus diri
sendiri. Selanjutnya kerusakan pada cerebrum atau otak besar juga bisa
mengakibatkan timbulnya gangguan-gangguan pada Perkembangan inteligensi pada
otak oleh kecelakaan di jalan raya, dan traumata sewaktu bayi
lahir. Oleh pemerintahan suatu negara dengan sengaja rakyatnya dibuat
tetap dalam keadaan bodoh, sehingga mereka itu dijadikan mesin atau robot-robot
yang bisa di manipulir sesuka hati secara politis.mereka tidak usah berpikir
dan menggunakan inteligensinya, sebab segala sesuatu sudah dipikirkan oleh
para politisi dan penguasa.
Yang penting bagi rakyat ialah harus patuh secara
mutlak dan selalu menurut. Tidak ada satu pun fungsi psikis yang
beroperasi secara sendiri. Semua itu bekerjasama dan menjadi satu kesatuan
yang terintegrasi. Pada kesadaran yang terganggu, individu sulit
memahami lingkungannya, dan sukar melakukan adaptasi.
Kerusakan dan dekadensi/kemunduran pada
jaringan-jaringan otak juga mengakibatkan kemerosotan fungsi
inteligensi, yang dimulai dengan gangguan pada ingatan, dan fungsi
pelekatan pengetahuan dalam ingatan. Demensia adalah kemunduran kognitif
yang sedemikian beratnya, sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari-hari
dan aktivitas sosial. Kemunduran kognitif pada demensia biasanya diawali
dengan kemunduran memori atau daya ingat atau biasa yang sering disebut juga
dengan pelupa . Kehilangan kapasitas intelektual pada demensia tidak
hanya pada memori atau ingatan saja, tetapi juga pada kognitif dan
kepribadian.
Gangguan fungsi kognitif pada lansia terjadi
umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf pusat yang meliputi gangguan
suplai oksigen ke otak, degenerasi, penyakit alzheimer dan
malnutrisi. Lansia yang mengalami gangguan fungsi kognitif sering
menghadapi berbagai masalah diantaranya gangguan orientasi
waktu, ruang, tempat dan tidak mudah menerima ide
baru . Demensia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik
yang dapat dimodifikasi maupun tidak. Usia, genetik dan riwayat
penyakit keluarga merupakan faktor tidak dapat dimodifikasi yang mempengaruhi
demensia. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi terhadap kejadian demensia
adalah hipertensi, diabetes
mellitus , hiperlipidemia, merokok .
Ayan itu merupakan penyakit pada
kesadaran, karena adanya gangguan pada otak, terutama pada cortex
atau kulit-otak. Kesadaran pasien sering hilang, disebabkan oleh
instabilitas pada neuron-neuron cortex. Jika serangan epilepsi ini sudah
mulai sebelum 7 tahun, akan mengakibatkan kelemahan mental dan hambatan
pada perkembangan fungsi-fungsi psikis. Sebelum serangan
epilepsi, penderita merasakan gejala auranyaitu merasa pusing, merasa
tidak enak pada perut dan punggung selama beberapa detik.
Dia menjadi bingung dan merasakan getaran-getaran
dingin, sehingga dia tidak mampu mempersiapkan diri terhadap serangan
serangan kekejangan yang timbul mendadak. Lalu dia mengalami
auto-stupor, yaitu rasa seperti terbius dan tidak berdaya, serta
merasakan kelumpuhan pada sebagian anggota badannya. Sering disertai
aphasia, yaitu tidak bisa berbicara sama sekali, dan apraxia yaitu
gangguan bercakap-cakap. Moral pasien menjadi semakin rendah, dan ia
tidak mampu melakukan adaptasi terhadap lingkungan.
Ada perubahan-perubahan jasmaniah dan mental yang
sifatnya degeneratif, sehingga ada kemunduran pada fungsi-fungsi fisik dan
psikis. Jika perubahan-perubahan berlangsung dengan cepat, maka
terjadilah gejala psikosa usia lanjut atau kegilaan usia tua. Dari
perspektif Islam, gejala yang paling khas dari SD adalah hilangnya ingatan
dan selanjutnya terjadi penurunan kemampuan kognitif. Ini berbeda dengan
kondisi di mana seseorang begitu saja melupakan sesuatu yang akan diingatnya nanti.
Karakteristik utama dari SD adalah penurunan
kemampuan kognitif, atau kondisi di mana seseorang 'berhenti untuk
mengetahui apa pun dari apa yang pernah diketahuinya dengan sangat baik. '
Dasar biomolekuler dari SD tidak ditentukan dalam sumber tradisi Islam, tetapi
dijelaskan oleh penelitian ilmu saraf modern. Ketika berobat, Islam
mengizinkan segala jenis perlakuan selama tidak menyimpang darinya syara ' dan
tidak melibatkan penggunaan apapun yang
haram . Misalnya, transplantasi jaringan yang diambil dari janin
yang diaborsi dilarang dari perspektif Islam, tetapi penggunaan sel punca
dari orang dewasa dengan persetujuan yang diinformasikan dapat diterima.
Produk alami yang direkomendasikan menurut Islam
telah terbukti memiliki khasiat yang mirip dengan beberapa obat konvensional, sehingga
berpotensi menjanjikan sebagai terapi. Hal ini sejalan dengan kehidupan
umat Islam yang berpedoman pada doa dalam bahasa Arab, lingua-franca
sastra dan / atau sumber Islam. Oleh karena itu, mayoritas Muslim yang
bukan orang Arab harus setidaknya tahu bahasa Arab, sehingga menambahkan
bahasa lain ke dalam penguasaan bahasa mereka.
GANGGUAN PADA FUNGSI INGATAN
Ingatan adalah setiap ungkapan, dalam mana
kaitan psikis dimanifestasikan dalam dimensi waktu . Ingatan adalah
kaitan masa lampau dari pengalaman . Ingatan ialah kemampuuan untuk
mencamkan, menyimpan dan memproduksi kembali isi kesadaran. Juga
bergantung pada usia. Ingatan
yang paling tajam pada manusia ialah kurang lebih pada usia 10 – 14
tahun. Sesudah umur 50 tahun, ingatan menjadi semakin
berkurang. Ingatan berhubungan erat dengan emosi – emosi. Maka
peristiwa – peristiwa yang menyentuh perasaan akan di ingat baik – baik.
Sedangkan kejadian – kejadian yang tidak
menyentuh emosi, akan di abaikan saja. Kemudian juga masalah –
masalah yang sudah di pahami, dan sudah di pertimbangkan baik –
baik, akan lebih melekat dalam ingatan. Ada ingatan yang setia –
baik, dan ada yang tidak. Faktor sugesti dan perasaan memegang peran
besar sekali dalam penentuan kualitas ingatan. Maka rasa takut, cemas, ragu –
ragu, gugup, minder atau rendah diri dan malu, semuanya
berpengaruh buruk terhadap ingatan. Jika pengenalan kembali tersebut
ditimbulkan oleh perangsang – perangsang atau impuls – impuls dari luar, maka
pengingatan kembali disebabkan oleh perangsang – perangsang dari dalam yang
sifatnya internal. Maka usaha dengan sengaja memasukkan dan melekatkan
bahan pengenalan dalam ingatan, disebut dengan memorisasi. Melalui
pemahaman, orang mencamkan informasi – informasi tertentu dalam ingatan.
Prestasi – prestasi ingatan itu berkaitan dengan
kondisi fisik dan psikis
tertentu. Pemahaman, insight/wawasan, hubungan
logis, pengikhtisaran, irama, melodi dan sajak dari bahan yang
diminati, semua bisa memperkuat ingatan, dan mempertinggi prestasi
ingatan. Pada kegiatan pencaman dan ingatan, sebaiknya diikutsertakan
bekerjanya macam-macam indera lain, misalnya indera-indera
pencium, peraba, membaca keras-keras dan lain-lain. Kesan-kesan
dengan warna-warna, akan lebih diingat daripada yang tidak
berwarna, dan angka-angka.
Kepribadian, watak, sentimen, minat, emosi, fantasi, harapan
dan kemauan seseorang mempunyai pengaruh besar terhadap prestasi
ingatan. Situasi dan kondisi yang menguntungkan dan
menyenangkan, bisa mempertinggi prestasi ingatan. Untuk mempertinggi
prestasi ingatan, perlu dibangunkan motivasi-motivasi,emosi-emosi dan
kemauan.
Amnesia
Amnesia juga bisa berlangsung
definitif, secara tetap, dan hilang untung
selama-lamanya. Sifatnya bisa sebagian/parsial saja yang hilang dari
ingatan, akan tetapi bisa juga bersifat total, yaitu seluruh
kesadaran masa lampau hilang sama sekali, atau terganggu secara
total, dan tidak dapat diingat kembali. Kadangkala amnesia
berlangsung secara periodik atau berkala. Pada peristiwa gegar otak dan
cedera pada otak amnesia ini sering terjadi. Semua kesan masa
lalu, sebelum terjadinya kecelakaan, jading hilang, biasanya
berlangsung pendek. Disebut pula sebagai tuli-kata/word
deafness. Disebut pula sebagai astereognosis atau astereocognosy.
Hambatan
pada Reproduksi
Pada proses reproduksi ini penyebab daripada
hambatannya yang terutama ialah emosi-emosi. Hal-hal yang dpat
mempengaruhi ingatan yaitu seorang pengunaan alkohol terlalu banyak, dan
drugs atau bahan-bahan narkotika itu berpengaruh sekali pada proses
asosiasi/kaitan dari tanggapan-tanggapan, ingatan dan pada proses
reproduksinya. Sedangkan kaitan logisnya juga tidak ada, jadi
berpikirnya menjadi kurang logis. Dengan demikian orang tidak mampu
mengingat lagi segala pengalaman masa lalu.
Gangguan terhadap reproduksi dekat atau “short
memory”c. Gangguan terhadap reproduksi jauh atau “long term memory”atau
“remote memory”. Inilah bentuk ingatan berjarak jauh. Banyak fakta
yang diperoleh melalui membaca dan studi hanya bisa melekat dalam ingatan dalam
waktu yang sangat pendek saja. Oleh karena itu usaha mengulang, informasi
itu sangat penting bagi “the long term memory”.
Senilitas
dan dementia senilitas
Senilitas= menjadi tua atau jompo, gejala
ketuaan. Pada tingkat lanjut, gangguan-gangguan intelek dan emosi
bertambah khususnya gangguan pada ingatan. Dalam sebuah penelitian pernah
diteliti perihal masalah “Gangguan”Demensia Tife Alzheimer pada Lanjut Usia
yang Berdzikir dengan yang tidak Berdzikir`. Menuru islam, ada
beberapa kegiatan ibadah yang mencegah terjadinya gangguan ingatan.
Para ulama dan ilmuwan Islam
mengatakan, bersiwak menggunakan pohon ara akan membuat ucapan fasih dan
membantu mencerdaskan otak. Siwak juga menjauhkan setan dan mengundang
datangnya para Malaikat. Selain itu menajamkan penglihatan dan menguatkan
daya ingatan.
Shaum
Banyaknya makanan dan minuman yang masuk ke dalam
tubuh membuat otak melambat dan menyebabkan lemahnya daya ingatan.
Membaca
Al-Qur`an
Membaca Al-Qur'an dengan tartil akan membantu seseorang
menajamkan ingatannya. Setiap ayat yang dibaca akan merangsang otak dan
menjernihkan pikiran.
GANGGUAN FUNGSI PERASAAN
Kata perasaan memiliki beberapa
definisi. Kata ini pertama digunakan dalam bahasa Inggris untuk
menjelaskan sensasi fisik sentuhan melalui pengalaman atau persepsi. Kata
ini juga digunakan untuk menjelaskan sensasi fisik jauh dari sentuhan seperti
“perasaan kehangatan”. Dalam psikologi kata ini sering diartikan untuk
pengalaman subjektif sadar mengenai emosi. Afek adalah perasaan dan emosi yang
menekankan tingkat kesenangan atau kesedihan pada kualitas senang dan tidak
senang, nyaman dan tidak nyaman yang mewarnai perasaan. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia arti kata Afek adalah perubahan perasaan karena tanggapan
dalam kesadaran seseorang . Bersama dengan dua aspek
lainnya, yakni kognitif dan konatif , emosi atau yang sering
disebut aspek afektif, merupakan penentu sikap, salah satu
predisposisi perilaku manusia. Namun tidak banyak yang mempermasalahkan
aspek emosi hingga muncul Daniel Goleman yang mengangkatnya menjadi topik utama
di bukunya.
Kecerdasan emosi memang bukanlah konsep baru
dalam dunia psikologi. Orang-orang yang optimistis lebih banyak dimuati
oleh perasaan-perasaan eukoloi. Dia cenderung melihat semua pengalaman
dari segi-segi yang indah dan menyenangkan. Sebaliknya, individu yang
dihinggapi dyskoloi cende rung melihat segala peristiwa dengan rasa
duka, tidak senang, cemas atau takut, dan penuh pesimisme.
Perasaan indriawi dihayati melalui alat indria, alat
pencernaan, pernafasan dan organisme lain yang erat kaitannya dengan
perangsang perangsang fisik. liknya merasa susah dan tidak
puas, karena tidak bisa memahami. serta tidak mampu memecahkan
kesulitannya. Oleh bimbingan hati nurani orang bertindak sesuai de ngan
norma-norma kebenaran.
Maka menurut Stekel , psikoneurosa
adalah bentuk pe. nyakit dari hati nurani manusia. Pribadi yang mampu
menampilkan rasa estetisnya ke dalam bentuk-bentuk konkret yang indah disebut
seniman atau seniwati. Maka seni adalah segala sesuatu yang dibuat untuk
bisa menimbulkan rasa indah, baik bagi diri sendir maupun bagi orang lain.
Mencipta seni dan menikmati seni memberikan
kesenangan dan kebahagiaan yang sangat dalam. Antara lain berus
takjub, kagum, percaya, yakın, keimanan, tawakal, pasrah
diri, renda hati. Perasaan religious digolongkan ke dalam perstiwa
psikis yang paling agung, tinggi dan luhur, dan sering menjadi dasar
bagi perbuatan-perta nobel atau mulia. Juga bisa menimbulkan penghayatan
kerana paling dalam. Perasaan sedemikian bisa dialami oleh setiap orang tidak
bergantung pada satu keyakinan agama tertentu. Tingkat paling tinggi dan
sangat khusus dari perasaan religius itu munc pada saat kita
bertaubat. Menurut Thayer suasana hati adalah perasaan-perasaan yang
cenderung kurang intens dan yang terjadi karena Suasana hati merupakan suatu
keaadaaan yang dialami dalam kehidupan manusia, sedikit banyaknya suasana
hati bisa dipengaruhi oleh cara berinteraksi antara satu individu dengan
individu yang lainnya di dalam suatu lingkungan sosial . Menurut
Santosa hubungan sosial merupakan salah satu hubungan yang harus dilaksanakan
mengandung perngertian bahwa dalam hubungan itu setiap individu menyadari
tentang kehadirannya disamping individu lain.
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara
individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu
mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain
atau sebaliknya .
Adanya
Proses-proses Maleriil Pada Cerebrum
Ada bahan obat-obatan tertentu yang bisa menurunkan
tingkat stemming dasar, sehingga mengakibatkan timbulnya
depresi. Juga macam-macam obat tidur dan opiat bisa membawa kita pada ming
dasar yang menyenangkan. Akan tetapi sekaligus juga mengaki batkan
munculnya stemming yang malas, tidak aktif, terus mengantuk dan
lengung, Dalam hal ini, peningkatan pada niveau stemming dasar dengan
serentak menurunnya kesadaran. Jika kita merasa gamang khawatir terhadap
sesuatu yang jelas, misal nya pada harimau atau orang gila yang mengamuk, maka
itu disebut takut. Jadi sesuatu yang menakutkan itu sudah jelas, karena
berbentuk bahaya atau sesuatu yang mengancam keselamatan diri kita. Sedang
kecemasan, oleh sifatnya yang tidak jelas benar dan
difus, digolongkan dalam kategori stemming atau suasana hati. Selanjutnya, gejala-gejala
pengikut pada kecemasan dan equivalen. Kecemasan psikolis adalah kecemasan
karena merasa terancam hidupnya, dan kacau-balau, ditambah
kebingungan yang hebat discbabkan oleh depersonalisasi dan disorganisasi
psikis.
Psikoneurosa
Oleh pengkondisian yang buruk dari lingkungan
sosial yang sang tidak menguntungkan, muncul kemudian banyak ketegangan
dan kece masar, serta simptom-simptom mental yang patologis atau gangguan
mental yang disebut neurosa.
Hysteria
Pada umumnya geral histeria muncul disebabkan
oleh usaha represi atau hadap macam-macam konflik internal.
Neurashtania
Perasaan sangat lesu lelah selalu
ada, sekalipun individu yang bersangkutan tidak sakit secara
jasmaniah. Ada perasaan-perasaan rendah diri dan selalu merasa cemas akan
melakukan kegagalan. Rasa lemah dan lelah itu khususnya dipakai sebagai
alat atau alasan untuk menghindari pertang gungan jawab, dan mengharapkan
belas kasihan orang lain terhadap dirinya.
Hipokondria
Selalu merasakan ketakutan dan kecemasan yang patologis
terhadap kesehatan badan sendiri. Pasien merasa yakin benar bahwa dirinya
mengidap penyakit yang serius. Setiap simptom kesakitan sekecil-kecilnya
pun dirasakan sebagai suatu bencana luar biasa yang akan melanda
dirinya. Dia merasa cemas kalau semua “penyakit”tadi menyebabkan
kematiannya.
Psikosomatisme
Ada kaitan antara tubuh dengan
jiwa. Contohnya, kemunculan emosi-emosi tertentu bisa disebabkan oleh
faktor mental, namun juga oleh faktor jasmaniah. Maka jelas ada
interdependensi atau saling ke tergantungan antara proses mental dengan fungsi
somatis.
Hypertension
Hypertension Adalah tekanan darah tinggi dengan
ketegangan yang tinggi. Emosi-emosi yang sangat kuat dan
kecemasan-kecemasan yang sangat kuat menjelma menjadi reaksi somatisme.
Peptic
Ulcer
Peptic ulcer ini asal mulanya berupa
peradangan, disebabkan oleh terlampau banyaknya asam-lambung dengan
konsentrasi yang sangat kuat dalam usus 12 jari atau deodenum. Perasaan
merupakan bagian terpenting dari kehidupan psikis. hagia tidaknya seorang
sangat ditentukan oleh kepuasan-kepuasan afektifnya. Perasaan juga
bergantung pada pemuasan keinginan
keinginan, dambaan-dambaan, harapan-harapan dan kebutuhan kebutuhan.
Jika segala sesuatu yang kita inginkan itu
terpenuhi, maka timbullah perasaan-perasaan positif. Sebaliknya
apabila tidak terpenuhi, muncullah perasaan-perasaan
negatif, misalnya takut, kecewa, sedih, cemas, putus
asa, dan lain-lain. Jadi perasaan senang bahagia itu bersambungan
dengan keberhasilan sedang rasa sedih-malang berhubungan dengan
kegagalan-kegagalan. Maka ritme perasaan ditentukan sekali oleh irama dari
ketegangan kecemasan serta pengenduran-pengenduran/relaxing.
GANGGUAN PADA FUNGSI KEMAUAN (KONASI
DAN KONOTASI)
Kemauan yang identik dengan
dorongan, sifatnya masih primer belum terarah dan tidak berisi intensi
apa-apa. Contohnya kegelisahan dan usaha menyibukkan diri, namun
tidak tahu persis apa yang mau dilakukan. Kemauan yang identik dengan
nafus-alamiah, hampir-hampir tidak sadar mengarah pada suatu tujuan. Kemauan
sebagai “wilsakten”, sifatnya aktif karena ada patokan dan tujuan yang
disadari dan akan dicapainya.
Ada pilihan dan penentuan sendiri yang didukung
oleh pertimbangan akal. Jadi, kemauan pada taraf ini merupakan inti
dari kehidupan yang personlich atau pribadi sifatnya, dan merupakan
kemauan bebas yang betul-betul bebas merdeka. Tipe yang naif, tanpa
konflik-konflik, kurang adanya kemauan dan pemawasan diri atau
selfbesinnung. Tipe ini banyak terdapat pada orang-orang yang
aktif, primer, kholerikus dan sanguinikus, yaitu tipe orang yang
tidak takut menghadapi masa depan. Tipe yang selalu bimbang, tidak
memiliki tempat berpegang, dan tidak pernah sampai pada kemauan sendiri
dan penentuan sendiri. Tipe pengikut tanpa kemauan sama sekali, yang
pada akhirnya selalu menyerah kalah pada setiap tantangan, dan secara
sia-sia melawan sentimen-sentimen sendiri, yaitu tipe sentimentil yaitu
suka menyendiri, bersifat tertutup pada orang lain. Yang selalu
menekan secara kronis. Terdapat pada tipe karakter yang mengidap
kompulsia-paksaan dan tipe gepassionerd, seperti selalu sibuk dan
rajin, penuh cita-cita besar. Menolak secara sistematis, karena
perasaan kebanggaan atau kesombongan yang “hiroistik”. Terdapat pada
karakter yang kaku, terutama pada tipe gepassioneerd.
Kompulasi
merupakan dimana keadaan terasa terdorong agar melakukan suatu tindakan yang
tidak rasional
Kompulsi adalah tendens atau implus/dorongan yang
tidak tertahankan atau tidak bisa di cegah untuk melakukan suatu
perbuatan, merupakan tendensi keinginan yang tidak bisa dikontrol dan
dikendalikan dan bertentangan dengan kemauan yang sadar sewaktu
melakukannya. Obsessi adalah ide – ide atau emosi – emosi
“imperative”keharusan yang terus menerus melekat dan tidak mau
hilang, sungguhpun individu yang bersangkutan dengan sadar berusaha keras
untuk menghilangkannya. Tics adalah macam – macam gerak facial seperti
dipaksakan, merupakan gerakan gerakan pengejangan yang habitual dari satu
kelompok kecil otot – otot. Perbuatan Kortsluiting adalah perbuatan nafsu
yang tidak terkendali, tanpa pertimbangan akal dan hampir – hampir tidak
disadari didorong oleh implus – implus yang luar biasa kuatnya.
Dementia merupakan sebuah sindrom yang berkaitan
dengan penurunan kemampuan pada fungsi otak. Kepribadian psikopatik merupakan
suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap tidak
sensitif, kasar, manipulatif, mencari sensasi dan
antisosial. Psikastenia merupakan kelainan psikologis yang ditandai dengan
fobia dan kecemasan yang berlebih. Dari contoh-contoh yang diatas maka
akan bisa disimpulkan bahwa seseorang akan berhasil atau tidak, sangatlah
ditentukan oleh adanya sifat KEMAUAN untuk mencapai suatu keberhasilan.
DEFISIEN/DEFEK MORAL
Defisien Moral
Defisien/defek
moral adalah kondisi individu yang hidupnya delinquent (nakal, jahat), selalu
melakukan kejahatan, dan bertingkah laku anti sosial. Namun tanpa adanya
penyimpangan atau gangguan organis pada fungsi inteleknya, hanya saja
inteleknya tidak berfungsi dengan baik, sehingga terjadi kebekuan moral yang
kronis. Individu yang memiliki defek moral cenderung psikotis dan mengalami
regresi, dengan penyimpangan-penyimpangan relasi kemanusiaan. Sikap orang-orang
yang defek mentalnya, cenderung bersikap dingin, beku, dan tanpa afeksi.
Emosinya steril terhadap sesama manusia; munafik, jahat, sangat egoistis,
self-centered, tidak menghargai orang lain. Tingkah lakunya selalu salah dan
jahat (misconduct); sering melakukan kekerasan, kejahatan, penyerangan.
Individu seperti ini cenderung selalu melanggar hukum, norma dan standar
sosial. Sedangkan kelemahan utama yang dimiliki oleh individu dengan defek
moral adalah ketidakmampuannya untuk mengenali, memahami, mengendalikan dan
melakukan regulasi terhadap emosi-emosi dan tingkahlaku sendiri. Mereka
cenderung tidak dapat dipercaya dan kualitas mental yang mereka miliki pada
umumnya rendah.
Anak-anak yang Bubrah
Anak-anak
bubrah (rusak, damaged childern) adalah anak-anak dengan perkembangan pribadi
yang regresif serta kerusakan pada fungsi intelek, sehingga interrelasi
kemanusiaannya menjadi miskin, beku, steril tanpa afeksi; disertai penolakan
terhadap super ego dan hati nurani sendiri, hingga muncul kebekuan moral.
Mereka digolongkan dalam kelompok defek moral. Banyak dari mereka yang
mengalami autistis (gangguan perkembangan dalam berkomunikasi, interaksi
sosial) dan psikotis, dengan retardasi mental yang berat. Ada dari mereka yang
memperlihatkan gerakan-gerakan yang tipis, yaitu “rocking movement” (gerakan-gerakan
goyang-goyang terus-menerus) dibarengi gejala-gejala erotik yang primitive.
Adapun
faktor penting yang menyebabkan anak bubrah ini, ialah:
a. Terpisahnya
mereka dengan orang tua pada usia kurang dari tiga tahun, khususnya berpisah
dengan ibunya.
b. Anak-anak
yang diasuh di rumah sakit, rumah yatim piatu dan panti-panti penitipan, dan
tidak pernah merasakan kasih sayang. Bahkan mereka mendapat 5 perlakuan yang
keras dan kejam, sehingga muncul rasa-rasa dendam, agresi, kebekuan emosional
dan interrelasi sosial yang sangat miskin.
Anak-anak
bubrah ini kebanyakan akan menjadi orang dewasa yang defisien moral. Sebab dari
usia yang sangat muda mereka sudah mengalami defek/rusak mental yang permanen,
sebagai akibat pengaruh lingkungan yang kejam dan buruk.
Anak-anak
bubrah dengan defek moral itu pada umumnya mengalami kekacauan/disorder mental,
dan sangat labil kepribadiannya. Ciri khas anak bubrah dan orang dewasa yang
defek moral antara lain sebagai berikut:
a.
Secara fisik dan organik mereka labil,
normal; tidak berbeda dengan orang normal. Ada yang sangat pandai dan briliant,
pintar berbicara, dan cerdik menarik. Tetapi mereka keras kepala, banyak
tingkah, tidak bisa diperhitungkan, mudah berubah, dan sangat munafik.
b.
Tidak toleran, suka melanggar aturan,
disiplin, norma dan otoritas. Mereka jadi penyimpang dan penjahat yang
permanen.
c.
Sangat sombong, ada over-estimasi
(penilaian-lebih) terhadap diri sendiri, tidak tahu malu, dan tidak tahu harga
diri; tidak bisa belajar dari pengalaman-pengalaman terutama kebaikan.
d.
Tidak tahu belas kasih, tanpa mengenal
afeksi, tidak pernah merasa bersalah atau berdosa, dan mau menang sendiri,
sangat egosentris, tidak mau memperdulikan hak orang lain. Sehingga selalu
menghina dan menerjang perasaan orang lain dengan perangainya yang sangat
kasar.
e.
Tidak punya kesadaran bertanggung
jawab secara susila. Sejak usia muda mereka sudah belajar mencuri dan melakukan
macam-macam kejahatan. Bahasanya jorok kotor, memuakkan. Tingkah lakunya kasar
dan berandalan. Sejak kecilnya mereka suka menyiksa dan menyakiti binatang;
setelah dewasa ia suka menyiksa dan menyakiti teman-temannya dan orang luar.
Juvenile Delinquency
Juvenile
Delinquency yang berasal dari dua kata, yakni “Juvenilis” yang berarti muda,
bersifat kemudaan; dan “delinquere” yang berarti jahat, durjana, pelanggar 6
nakal. Juvenile Delinquency adalah anak-anak muda yang selalu melakukan
kejahartan, dimotivir untuk mendapatkan perhatian, status sosial dan
penghargaan dari lingkungannya. Mereka ini disebut pula sebagai pemuda-pemuda
brandalan, atau pemuda aspalan yang selalu berkeliaran di jalan-jalan aspalan,
atau anak-anak jahat nakal. Pada umumnya mereka tidak memiliki kesadaran sosial
dan kesadaran moral. Tidak ada pembentukan Ego dan Super-ego, karena hidupnya
didasarkan pada basis instinktif yang primitif. Mental dan kemauannya jadi
lemah, hingga impuls-impuls, dorongan-dorongan dan emosinya tidak terkendali
lagi.
Faktor- Faktor Penyebab Kenakalan
Remaja (Juvenile Deliquency)
Sebab-sebab
anak-anak muda menjadi delinquent ialah sebagai berikut:
1.
Delinkuensi karena instabilitas psikis
2.
Delinkuensi disebabkan defisiensi dari
kontrol Super-ego
3.
Delinkuensi karena fungsi persepsi yang
defektif.
Selain
itu, terdapat pula berbagai faktor yang melatarbelakangi terjadinya kenakalan
remaja. Berbagai faktor yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor
internal dan faktor eksternal. Berikut ini penjelasannya secara ringkas:
1.
Faktor Internal
·
Krisis identitas
·
Kontrol diri yang lemah
2.
Faktor
Eksternal
·
Kurangnya perhatian dari orang tua, serta
kurangnya kasih saying
·
Minimnya pemahaman tentang keagamaan
·
Pengaruh dari lingkungan sekitar
·
Tempat Pendidikan
Bentuk-
Bentuk Delinkuensi Anak dan Remaja
Menurut
Kartono, bentuk-bentuk kenakalan anak dan remaja dibagi menjadi empat, yaitu:
a)
Kenakalan Remaja Terisolir (Delinkuensi
Terisolir)
b)
Kenakalan Remaja Neurotik (Delinkuensi
Neurotik)
c)
Kenakalan Remaja Psikotik (Delinkuensi
Psikopatik)
d)
Kenakalan Remaja Defek Moral (Delinkuensi
Defek Moral)
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh
Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency)
·
Bagi diri remaja itu sendiri
·
Bagi Keluarga
·
Bagi lingkungan masyarakat
Upaya Penanggulangan Kenakalan Remaja
(Juvenile Delinquency)
Dari
berbagai faktor dan permasalahan yang terjadi di kalangan remaja masa kini sebagaimana
telah disebutkan di atas, maka tentunya ada beberapa solusi yang tepat dalam
pembinaan dan perbaikan remaja masa kini. Kenakalan remaja dalam bentuk apapun
mempunyai akibat yang negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja
itu sendiri. Berikut ini terdapat upaya penanggulangan kenakalan remaja yang
tediri dari:
·
Tindakan Preventif
·
Tindakan Represif
·
Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi
DEKOMPENSASI PSIKOTIK DAN PSIKOSA
ORGANIK
Psikosa
Psikosa/psikosis
adalah bentuk kekalutan mental yang ditandai adanya disintegrasi kepribadian
(kepecahan kepribadian) dan terputusnya hubungan dirinya dengan realitas.
Menurut Singgih D. Gunarsa (1998: 140) psikosa ialah gangguan jiwa yang
meliputi keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan
diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. Individu disebut
psikotis apabila:
1
Reality-testingnya terganggu sama
sekali, sehingga pikiran dan tanggapannya tidak sesuai dengan realitas, lalu
dihinggapi halusinasi dan delusi.
2
Oleh disintegrasi kepribadiannya,
orang mengalami kekalutan organis, kekalutan fungsional, dan kekalutan
fungsi-fungsi kejiwaan.
3
Individu mereaksi (memasak dan
mencernakan) tekanan-tekanan internal serta eksternal dengan cara yang keliru
dan merugikan.
Reaksi
individu terhadap tekanan internal dan eksternal selalu keliru dan merugikan. Mereka
umumnya hidup dalam dunia yang tidak rill (dalam dunia fantasi, cita-cita atau
dunia imaginer), sebab hubungan dirinya dengan dunia luar atau dunia realitas
sudah putus. Penderita jadi tidak kompeten secara sosial. Individu mengalami
maladjustment yang berat dan tidak mampu memikul tanggung jawab atas segala
tingkah lakunya.
Seringkali
ia menderita rasa takut yang hebat, dihinggapi depresi, delusi, halusinasi,
regresi, stupor (tidak bisa merasakan sesuatu pun, keadaannya seperti terbius)
dan tidak mempunyai insight sama sekali. Fenomena lainnya yang kerap timbul
ialah: sering mengamuk disertai kekerasan atau serangan hebat yang maniakal
kegila-gilaan, sehingga membahayakan dan mengancam keselamatan orang lain (yang
bisa membunuh orang lain). Juga bisa berbahaya bagi diri sendiri, karena
munculnya usaha untuk bunuh diri. Sehingga mereka perlu mendapatkan perawatan
dalam Rumah Sakit Jiwa atau assylum. Psikosa dibagi dalam dua penggolongan
yaitu:
·
Psikosa organik (organic psychosis)
·
Psikosa fungsional (functional psychosis)
Pengertian Psikosa Organik
Psikosa
organik ialah psikosa disebabkan oleh faktor-faktor fisik dan internal
(herediter, penyakit, gangguan organik dan kerusakan pada jaringan-jaringan
otak) yang mengakibatkan penderita mengalami kekalutan mental, maladjustment
dan inkompetensi sosial. 5 Psikosa organik disertai dengan kerusakan-kerusakan
atau gangguan organik, khususnya pada otak (organic brain disorder). Gangguan
fungsi otak dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1
Penyakit badaniah:
meningo-enchepalitis, gangguan pembuluh darah otak, tumor otak, tifus,
endometritis, payah jantung, dan toximea.
2
Cidera kepala: cidera kepala sedang,
cidera kepala berat. Kejadian ini mengakibatkan berkurang dan rusaknya
fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, perasaan, kemauan dan motoric.
Beratnya
gangguan jiwanya bergantung pada parahnya kerusakan-kerusakan organik pada otak
tersebut. Rathus dan Nevid (1991) secara terperinci menyebutkan ciri-ciri dari
gangguan mental organik seperti:
·
Fungsi intelektual atau ingatan menurun,
mengalami kesulitan dalam berbicara, memahami, menghitung, dan kehilangan
pengetahuan umum.
·
Kehilangan ingatan terhadap
peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi dan bukan terhadap
peristiwa-peristiwa yang sudah lama terjadi lebih merupakan ciri khas kerusakan
organik
·
Adanya disorientasi dan gangguan motor
(misalnya kesulitan berjalan atau gemetar yang tidak berada di bawah kendali
kemauan)
·
Gangguan penilaian atau kesulitan dalam
mengambil keputusan dengan tepat, seperti berpakaian secara tidak tepat atau
meninggalkan rumah pada waktu hujan dan angin
·
Suasana hati yang tidak stabil dan agitasi
emosional, misalnya peralihan yang terjadi dengan cepat dari tertawa ke
menangis dan sebaliknya
·
Perubahan-perubahan kepribadian dalam
kehidupan kemudian.
Proses Dekompensasi
Pada
permulaan kemunculan psikosa, unsur kecemasan memegang peranan penting, bahkan
mungkin terpenting; sehinggga pasien mengembangkan halusinasi-halusinasi dan
delusi[1]delusi
serta fantasi-fantasi yang menkutkan. Pasien akhirnya tidak bisa membedakan isi
angan[1]angan
sendiri dengan realitas nyata. Fungsi pengenalan, fungsi perasaan dan
kemauannya, masing-masng beroperasi sendiri-sendiri, tidak terintegrasi. Tidak
ada pengaturan terhadap fungsi-fungsipsikis yang menjadi otonom dan liar
beroperasi seniri-sendiri itu. Terjadilah khaos dan disintegrasi kepribadiannya,
dan inividu tidak bisa mengadakan regulasi. Muncullah kemudian banyak kecemasan
dalam kondisi kepribadian yang kalut ini.ketidak mampuan mereagir dan
menyalurkan kecemasan-kecemasan, dengan melemahnya reglasi kecemasan, itu
mengakibatkan: kerusakaan dan gangguan pada sistem syaraf. Maka ketegangan[1]ketegangan
psikis berubah menjadi peristiwa-peristiwa somatis atau jasmaniah.
Skema
pendek terjadinya kecemasan dan dekompensasi psikis sebagai berikut:
1) Oleh
macam-macam situasi dan peristiwa yang berlangsung di lingkungan masyarakat,
muncullah kemudian reaksi-reaksi pada yang disebut implus-implus hebat, yang
tidak bisa dicemaskan atau dimasak dan diselesaikan dengan baik.
2) Karena
ketidakmampuan mencemaskan implus-implus tersebut timbul banyak kecemasan.
Kecemasan-kecemasan tersebut sangat mengganggu dan mengurangi daya[1]pikul
psikis.
3) Jika
beban kecemasan lebih besar, sedang daya-pikul psikis mengecil atau berkurang,
maka terjadilah proses dekompensasi psikis. Pada anak-anak kecil, daya pikul
psikisnya sangat kecil atau lembah. Dan pada fase-fase hidup tertentu, misalnya
pada masa puber dan menopause, daya pikul psikis jadi melemah, sedang beban
psikisnya menjadi makin berat dan semakin banyak.
Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Jiwa
Psikotik
·
Faktor Organik atau Fisik (Jasmaniah)
·
Faktor Psikis dan Struktur Kepribadian
·
Faktor Keluarga
·
Faktor Sosio-Budaya
Pengelompokan Psikosa Organik
a.
Toxic Psychosis (Psikosa Oleh
Sebab-sebab keracunan)
·
Alkoholisme
·
Psikosa Alkoholik (Alcoholic Psychosis)
·
Korsakow's Psychosis.
·
Drug Psychosis (psikosa akibat obat-obat
bius).
·
Loodpsychosts (Lead-Psychosis, Plumbism,
psikosa keracunan timah bitam).
b.
Psikosa Siphilitik (Syphilitic
Psychosis) Psikosa Oleh Congenital Syphilis
Akibat
dari syphilis ini ada beberapa simptom, yaitu: Dementia Paralytica atau General
Paralysis, Juvenile Paresis, Cerebro Spinal Syphilitic Psychosis (cerebral
syphilis), Tabes Dorsalis (Locomotor Ataxia),
c. Senile
Psychosis (Psikosa Senil)
Ada
3 golongan penyakit psikosa usia tua ini, ialah:
·
Senile Dementia (Psikosa Senil)
·
Presenile Psychosis
·
Psikosa Senil dengan Cerebral
Arteriosclerosis (penyempitan/ pengerasan pembuluh-pembuluh otak
d. Psikosa
Traumatik (Traumatic Psychosis)
Pikosa
traumatik disebabkan oleh luka (trauma) pada kepala, karena jatuh, dipukul,
mendapat kecelakaan, atau luka ditembak. Kesadaran untuk sementara waktu, lalu
orang menjadi sembuh kembali. Simptomnya waktu mendapat luka-luka, berupa shock
otak sampai luka akut, yang kemudian bisa berkembang menjadi luka
post-traumatic.
e. Psikosa
Karena Gangguan-gangguan Glanduler
Terjadi
psikosa karena ada gangguan pada kelenjar-kelenjar glanduler:
·
Gangguan pada kelenjar Thyroid.
·
Gangguan pada kelenjar Adrenal (Addison's
Disease)
·
Gangguan kelenjar Pituitary (kelenjar
lendir di bawah otak atau kelenjar Hypophysa)
·
Gangguan pada kelenjar Gonadal
f.
Psikosa Karena Kekurangan Vitamin
Terjadi
status psikosa karena badan menderita kekurangan gizi, vitamin dan bermacam[1]macam
zat makanan lainnya. Kekurangan ini bisa menjadi dasar untuk tumbuhnya penyakit
psikost.
g. Psikosa
Organik yang Tidak Diketahui Sebab-sebabnya
Penanganan Efektif Terhadap Pasien
Gangguan Jiwa Psikotik
·
Psikoterapi
·
Melatih (coaching)
·
Konseling
·
Pemberian nasihat (advising)
·
Perlakuan (treatment).
Pada psikosa fungsional
ini ada kekacauan mental (secara fungsional) yang nonorganis sifatnya, sehingga
terjadi kepecahan atau keterbelahan pribadi. Desintegrasi kepribadian ini
membuahkan maladjustment sosial yang berat, sehingga penderita terputus
hubungannya dengan realitas hidup di luar. Dia menjadi tidak kompeten secara
sosial. Kelompok psikosa fungsional ini adalah: (1) psikosa skizpfrenia, (2)
psikosa manis-depresif, (3) psikosa paranoia. Sedangkan untuk psikosa
skizofrenia dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu hebefrenik, katatonik, dan
paranoid.
TEKNIK-TEKNIK DALAM MENDIAGNOSAI GANGGUAN JIWA
Diagnosa
Rumusan diagnosis yaitu Permasalahan berhubungan
dengan Etiologi dan keduanya ada hubungan sebab akibat secara ilmiah.
Perilaku dan emosional dengan onset biasanya
pada masa kanak dan remaja Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di
Indonesia pada awalnya disusun berdasarkan berbagai klasifikasi pada
DSM , tetapi pada PPDGJ III ini disusun berdasarkan ICD X .
•Reaksi
Berantai Dari Satu Penyakit
Dari satu gangguan psikis atau satu penyakit
fisik dapat menyebabkan reaksi/dampak yang berantai dalam permasalahan yang
dialami dengan wujud gangguan yang berada, apabila tidak segera ditangani
atau pribadi yang bersangkutan mengalami degenerasi dan dementia. Trauma
pada kepala dapat mengakibatkan beberapa gangguan, karena itu sifatnya
multi-kausal.
Interviu
Dalam melakukan suatu diagnosa Jenis gangguan
jiwa memerlukan adanya komunikasi/percakapan antara klien dengan konselor
melalui teknik wawancara/Interviu. Dan berusaha menjelaskan pada klien
bahwa perasaan dan keyakinan-keyakinan yang di anutnya keliru, tidak
sesuai dengan realita yang ada. Dengan teknik interviu ini berusaha untuk
melucuti kedok, memergoki, menangkap basah, dan memaksa klien
agar mau membuka diri dan mau melepaskan suatu pendirian yang
salah. Biasanya orang yang merasa disudutkan akan bersikukuh untuk
mengumpat dengan alasan-alasan yang palsu, ia akan berusaha mempertahankan
pendirian-pendiriannya yang tidak realistis.
Dengan sikap yang
simpatik, sabar, tenang, menyenangkan, dan mau mengerti
kesulitan klien akan mampu meringankan rasa bersalah klien serta membebaskan
pasien dari rasa hampa dan bingung serta keputus asaan yang rasakan oleh klien. Psikoterapi
berasal dari dua kata, yaitu «psyche» yang berarti «jiwa» dan «therapy»
yang berarti «pengobatan». Sampai saat ini psikoterapi dianggap sebagai
aspek murni psikiatri yang merupakan bagian integral dari praktek psikatri dan
relevant digunakan pada gangguan psikiatrik, Psikoterapi digunakan
untuk ,meningkatkan sikap fleksibilitas, kebebasan, kebahagian
dalam hidup mereka. Ini tidak dapat mengubah problem pasien yang ada.
Psikoterapi adalah usaha penyembuhan untuk
masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku.
Freud menerik kesimpulan bahwa kelompok sama
dengan gerombolan dan pimpinan kelompok berfungsi sebagai pengganti «parental
Figures». Terapi Kelompok Psikoanalitis dilakukan dengan
cara, kelompok terdiri atas 6 atau 7 orang klien, persidangan berlangsung
dua kali dalam seminggu selama kurang lebih 1¼ sampai dengan 1½ jam.
•Kelebihan
dari terapi Kelompok Psikoanalitis antara lain
Mendapatkan umpan-balik yang lebih banyak dari
teman sekelompoknya mengenai
sikap, perasaan, pikirkan, kekeliruan, kelemahan, dan
lain sebagainya. Dari banyak orang umumnya akan lebih memberikan pengaruh
yang lebih meyakinkan dari pada kritik dari satu orang saja. Bersama-sama
yang serat dimulai oleh emosi-emosi dari teman sekelompoknya akan menumbuhkan
asosiasi- asosiasi yang lebih kaya pada setiap individu.
Teingkah-laku
Lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan
cara yang lebih efektif dan efisien. Belajar berlangsung dalam situasi
alami namun juga dapat berlangsung dalam situasi yang dengan sengaja diciptakan. Dengan
belajar memperhatikan macam-macam informasi, yang bisa dipakai sebagai
alat pemahaman dan pemecahan masalah.
Kondisi
belajar lainnya yaitu kondisionisasi instrumental atau yang di sebut juga
sebagai operant learning Assertive training SyistematicdesensitizationImplosive
therapy
C.Manfaat Teknik Diagnosa Gangguan Jiwa Adapun
manfaat dari diagnosis antara lain, 1. Misalnya di
Indonesia, pemerintah telah menetapkan PPDGJ III sebagai pegangan untuk
diagnosis untuk gangguan kejiwaan bagi mereka yang bekerja dalam kalangan rumah
sakit jiwa, sehingga untuk seorang pasien terdapat persamaan pandangan
diantara pihak-pihak yang menanganinya. Bisa juga pasien dengan jenis
gangguan tertentu dapat diteliti mengenaisisi kepribadian dan gejala-gejala
psikologis lainnya. Selanjutnya, cara konstruk diagnosis
didefinisikan dan dilukiskan, akan merangsang riset mengenai kriteria
gangguan individual, perangkat criteria alternative, dan
komorbiditasdiantara gangguan-ganggua itu.
Keempat, setidaknya menurut
teori, untuk gangguan tertentu dapat dipilih terapi mana yang kiranya
dapat lebih efektif digunakan
REHABILITASI ISLAM
Rehabilitasi
adalah restorasi Proses rehabilitasi yang dilakukan oleh petugas rehabilitasi
berupa bantuan, dengan pengertian setiap usaha rehabilitasi harus selalu
berorientasi pada pemberian kesempatan kepada pasien yang dibantu untuk mencoba
melakukan dan memecahkan sendiri masalah-masalah yang disandangnya .
Rehabilitasi pendidikan adalah layanan yang
diberikan kepada individu yang membutuhkan layanan khusus dalam bidang
pendidikan Rehabilitasi dalam Keluarga
Rehabilitasi dalam keluarga merupakan model
layanan rehabilitasi yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya yang
mengalami gangguan. Orang tua terlebih dahulu diberikan latihan bagaimana cara
memberikan layanan kepada anaknya atau keluarga yang membutuhkan layanan
khusus.
Medis
Jika yang disebut dengan pengobatan medis secara
umum adalah pengobatan yang dilakukan oleh dokter di rumah sakit, puskesmas
atau klinik, dengan menggunakan obat-obatan produksi pabrik atau alat-alat yang
menggunakan teknologi canggih, atau secara lebih singkat lagi Amin Syukur
mendefinisikannya sebagai segala sistem pengobatan yang menggunakan alat dan
bahan secara bendawi, baik itu dokter, orang sakti, dukun atau sebutan- sebutan
lainnya.
Non-Medis
Rehabilitasi non-medis merupakan pendamping dari
rehabilitasi medis. Rehabilitasi non-medis adalah proses pemulihan dengan tidak
menggunakan alat dan bahan secara bendawi, baik itu dilakukan oleh dokter,
orang sakti, dukun, tabib atau sebutan lain yang sepadan dengan itu.
Rehabilitasi Islam
Yang dimaksud dengan rehabilitasi islam adalah
terapi yang dilakukan dengan upaya-upaya untuk mendekatkan diri terhadap sang
pencipta yang mana dengan melakukan ritual-ritual dalam keagamaan, seperti
beribadah, berdoa, berdzikir, dan juga mengaji, yang mana keagamaan tersebut
merupakan pedoman bagi umat islam.
Rehabilitasi islam juga dapat diartikan sebagai
upaya yang dilakukan untuk membantu penyembuhan atau perawatan terhadap klien
dengan melalui aspek emosional dan juga sepiritual dari diri setiap individu
yang mana dilakukan dengan cara islami dan juga tidak bertentangan dengan
ajaran islam.
Dalam pelaksanan rehabilitasi islam memiliki
peran yang sama dengan rehabilitasi pada umumnya, yang mana untuk membantu
seseorang untuk pulih dan mampu untuk membetulkan hasil-hasil dari
masalah-masalah emosional dan mengembalikan kemampuan yang hilang.
Komentar
Posting Komentar